Bersua Ria Banner
Bersua Ria Banner

People Film “Creativity Beyond Limits”

Creative is personal, slide through a wonderful journey of People Film.
Image by People Film

Pada edisi Bizgaze kali ini, kita mendapat kesempatan untuk berbincang dan berdiskusi dengan People Film. Sebuah unit bisnis, production house di Surabaya, People Film telah resmi berdiri sejak tahun 2017. Telah lama menjadi bagian dari industri perfilman, khususnya di Surabaya, People Film tumbuh dan berkembang dengan spirit dan passion mereka untuk film dan industrinya. Setiap dari mereka memiliki keunikan masing-masing, yang pada akhirnya bercampur dan menggambarkan ciri khas dari People Film itu sendiri.

Mewakili People Film dalam dialog ini, Bernardus Raka, selaku sutradara People Film, berbagi banyak insight baru dan pandangan berbeda mengenai industri film dan iklan yang telah lama mereka tekuni. Kisah dan cerita mereka tentang industri ini sangat mungkin membangkitkan semangat kita untuk terus berkarya.

“Aku pribadi dan teman-teman senang sekali bisa terlibat langsung dengan masyarakat lokal dalam proses pembuatannya. Karena konten yang kita hasilkan itu organik dan kita rekam langsung dari keresahan pelaku-pelakunya. Wah itu rasanya bahagia banget kita shooting, bisa keliling Indonesia.”

Simak obrolan kami dalam Bizgaze People Film berikut ini:


Boleh cerita sedikit soal awal terbentuknya People Film dan perjalanannya...

People Film dikatakan established sekitar tahun 2017. Di 2016 kita masih embrio, belum terbentuk sebagai sebuah badan usaha resmi. Kemunculan awal People ini sebenarnya bermula dari perkumpulan atau teman-teman yang memamng sudah pernah terjun langsung dalam produksi video untuk lomba dan sebagainya. 

Kalau ditarik kebalakang lagi, People ini sebelumnya adalah sebuah creative studio, kita bantu-bantu untuk gigs, concert dan kesenian pada masa itu, kira-kira di tahun 2014. Awalnya People ini cuma ada orang, 4 pioneer lah termasuk aku sendiri.

Seiring berjalannya waktu, kita merasa bahwa passion yang sebenarnya kita miliki itu bukan di bidang designing dan semacamnya. Jadi secara semangat kita merubah dan memantabkan diri untuk menekuni dunia perfilman ini sampai dengan sekarang.

Pada prosesnya, terutama di tahun 2016 kita ngebut-ngebutnya untuk menyusun portofolio. Caranya ikut beberapa lomba dan festival iklan yang diadakan oleh Bukalapak atau Go-video. Seketika itu juga, kita menyadari bahwa untuk sustain di dunia perfilman ini kita harus hidup dari iklan.

Secara reference dan gaya hidup kita yang konsumnya banyak ke film. Di 2017 kita menyadari bahwa pada saat itu ekosistem kreatif di surabaya belum terbentuk dengan bagus, kurang appreciative, dan memang belum familiar dengan adanya production house di surabaya. Jelas ada gap tentang keberadaan production house lokal. Awalnya pasti ada perasaan inferior juga dibanding dengan production house di Jakarta. 

Perkembangan teknologi seperti igtv dll memungkin untuk membuat sebuah iklan. Next step,

Apa makna dari nama People Film itu sendiri?

Kalo nama people ini karena member kita banyak aja sih, haha. Bingungkan mau kasih nama apa, jadilah People. Baru di 2017 nama People ini ditambah dengan kata “film” karena sudah sesuai dengan bidang yang kita kerjakan. Penambahan kata film ini juda didasari dengan semangat dan energi teman-teman People ini yang memang di film. Misal ada suatu project iklan kebanyakan pasti menggunakan konsep storytelling.

Ada kah trigger yang mengawali berubahan haluan yang People Film ambil?

Trigger awal yang sangat mendorong kita adalah ketika kita dapat beberapa penghargaan di festival film atau iklan yang kita ikuti. Ya setelah proses transisi bisnis kita ke medium yang baru, apresiasi seperti itu benar-benar memompa semangat kita. Meneguhkan spirit dan passion kita bahwa, ya memang film ini jalan kita untuk berkarya. Selanjutanya, Puji Tuhan kita mulai dapat beberapa project komersil untuk brand-brand. Berlanjut dengan projectproject yang menjawab idealisme kita, seperti project WWF di Kalimantan atau dokumenter di NTT, hal-hal seperti ini yang aku pribadi bisa catatat sebagai achievement yang memuaskan.

Image by People Film

Menurut People Film, adakah satu atau dua project yang boleh dikata, sebuah achievement?

Melanjutkan pertanyaan diatas, achievement ya waktu kita membuat dokumenter di NTT atau untuk WWF di Kalimantan, idealisme kita terjawab pada waktu itu. Karena itu bukan sekedar sebuah project, adda misi besar yang kita bawa di situ. Aku pribadi dan teman-teman senang sekali bisa terlibat langsung dengan masyarakat lokal dalam proses pembuatannya. Karena konten yang kita hasilkan itu organik dan kita rekam langsung dari keresahan pelaku-pelakunya. Wah itu rasanya bahagia banget kita shooting, bisa keliling Indonesia.

Pada dasarnya aku dan anak-anak People Film ini bisa dibilang memiliki simpati lebih terhadap apa yang terjadi di masyarakat. Dengan adanya pembuatan dokumenter ini kita seperti punya wadah untuk mengutarakan sikap kita terhadap issue yang ada di sekitar masyarakat. Terjun langsung tanpa perlu membuat sandiwara, karena kita berhadapan langsung dengan issue itu.

Selain dokumenter, penggarapan MV juga menyenangkan. Pada masa-masa itu People lagi sibuk dengan project komersil, dengan adanya pembuatan MV ini seperti refreshing ya. MV ini kayak tempat bermain kita, karena kita bisa dengan leluasa explore hal-hal seperti pengadeganan, frame yang ingin kita ambil, kita punya kebebasan disini.

Series dengan semangat kolaborasi. Rumit, memorable, dengan proses-prosesnya. Guyubnya proses shooting. buat proposal untuk pendanaan film pendek atau karya yang memang kita suka.

Apakah ada strategi awal atau skema bisnis di permulaan karir People Film?

Strategi awal yang pasti ngumpulin portofolio. Portofolio yang bagus sudah pasti ditambah relasi yang bags juga, itu sangat membantu. Yang utama tetap portofolio. mungkin dalam durasi 4 tahun itu kita benar-benar menyiapkan itu semua. Impian kita harus bisa step up ke skala nasional. Kita juga ingin buktiin gituloh, kalau production house di Surabaya itu capable buat handle skala produksi yang besar.

Koneksi dan relasi ini juga besar perannya. Kita harus cari jalan untuk bisa masuk ke skema bisnis di Jakarta, caranya ya dengan cari relasi di bidang yane bersangkutan. Hal itu jadi bekal untuk berangkat ke Jakarta. Ya kita harus stay on radar-nya mereka, biar bisa dilihat. Karena kita sadar kita bukan dari circle seniman atau nama-nama besar yang menonjol. Itu sih strateginya.

Ini sekarang, produser kita, Aswin lagi di Palari Films. Ya itu untuk membuka relasi kita di skena Jakarta.

Bagaimana pandangan People Film terhadap industri film, khususnya di Surabaya?

Secara ekosistem, menurutku lingkup industri di Surabaya kurang baik ya. Industrinya belum terbentuk. Gampangnya kita kayak anak hilang nggak tau mau kemana, cul-culan lah. Dan juga, aku pribadi ngerasa kalau kita (pelaku industri) ini kayak jalan dewe-dewe gituloh. Kalau soal ini memang urusuan personal ya, cuman aku pribadi kangen masa-masa di mana kita bisa buat ini itu, festival atau acar lagi lah.

Ini juga trigger kita buat ngadakin Kelas Inisiatip. Nggak tau kenapa aku ngomong Kelas Inisiatip terus, cuma ini kayak usaha kita untuk ikut andil di industri ini. Contohnya aja, elemen produksi di Surabaya yang masih bisa explore lagi, kayak actor atau talent. Mungkin kalo kalian perhatiin actor yang main ya itu-itu aja.

Satu hal lagi mungkin jumlah crew di Surabaya ya. Crew kita ini sedikit men, jadi harus gantian gitu. Misal ada produksi barengan gitu agak bingung, karena kayak spilt crewnya, karena itu sdm crew di Surabaya nggak banyak.

Image by People Film

Bagaimana People Film keeping things in balance antara idealisme dan komersil?

Analoginya seperti ini, Idealisme pada dasarnya adalah ego. Atau bisa dikatakan sebuah kesenangan yang semu. Logikanya kita tidak mungkin memenuhi ego itu terus menerus, memenuhi kesenangan semu itu tanpa mempertimbangkan kebutuhan yang riil. Sedangkan kebutuhan sehari-hari adalah kebutuhan yang riil. Kita hidup dari iklan dan project komersil.

Kembali lagi, kita harus bijak memilih dimana dan kapan idealisme atau ego itu bisa disematkan. Idelisme itu ego, kesenangan yang semu. Kalau kebutuhan sehari-hari ini kan kebutuhan riil. Sebagai ego atau kesenangan yang semu, sedangkan kebutuhan sehari-hari itu kan kebutuhan yang riil. Seseorang bisa dikatakan professional jika  idealisme itu tetap ada dalam semua project yang kita kerjakan. 

Kalau dari pengalaman pribadiku sebagai sutradara, Idealisme itu bakal tetap kepake kok. Karena memang banyak juga creative agency yang mencari production house atau director yang punya sikap. Sebagai sutradara, aku seringkali dituntun untuk bisa menyikapi suatu brief atau issue sehubungan dengan concept yang sudah mereka buat. Aku harus bisa memberikan initial thought-ku, menjabarkan hal itu sesuai dengan idealisme yang aku punya. Idealisme di wilayah komersil masih ke pakai. Yang terbaik kita harus berada diantara keduanya. 

Apakah ada suatu skema atau pattern tertentu dalam proses creative People Film?

Kalau aku pribadi tidak punya suatu skema yang terstruktur dalam proses kreatif. Ya secara general kita seringkali memproses sebuah cerita yang berangkat dari keresahan pribadi ditambah dengan riset dan referensi yang kita kumpulkan. Keresahan-kerasahan pribadi dari tim kita bisa membentuk suatu kerangka cerita, kemudian masuk ke proses developing dengan bantuan referensi dari lagu atau film. Hal-hal ini proses kita dalam suatu project inisiatif ya.

Aku pribadi bahkan buat satu playlist untuk brainstorming atau yang membantu untuk set the mood. Satu hal yang kita percaya, “The most personal is the most creative”, ini kata-kata dari Martin Scorsese. Kata-kata ini yang kita pegang, bisa dibilang ini People banget. Jangan sampai ada jarak dengan karya yang kamu kerjakan. Kuncinya yang utama kita percaya satu sih, “the most creative is the most personal”. Itu people banget. Kuncinya adalah empati dengan cerita yang kita tulis, pembangunan empati dengan tokoh yang menggerakkan cerita, jangan sampai ada jarak dengan cerita yang kamu buat. Skema ini mungking terlihat lambat karena pasti ada fase-fase kebuntuan atau overthinking. Tetapi hal itu bukan hambatan, hal itu bagian dari proses kreatif itu sendiri.

Beda hal dengan pengerjaan project komersil. Karena kita sudah dapat brief dan deck keseluruhan, kita sebisa mungkin menghindari overthinking atau proses ideasi yang lamban. Perbandingannya simple sih, film tentu bebannya lebih berat karena ada statement yang harus dipertanggung jawabkan, sedangkan project komersil statement-nya ada di brand itu sendiri.

Menurutku sustain itu berarti adil. Ya kayak hubungan kita dengan alam, harus adil nggak boleh serakah. Sama halnya dengan suatu perusahaan. Porsinya harus adil, untuk perusahaan segini untuk crew segini. Harus adil lah intinya. Tapi memang banyak hal tidaksesuai dengan yang direncanakan entah itu faktor alam atau faktor teknis dalam produksi. Contohnya kayak pandemin ini.

Cara mengatasinya ya selalu ada kebijakan kebijakan baru, penyesuaian. Ada disuatu kondisi dimana perusahaan ini nggak balance dan kita harus bisa mengambil sikap. Keep it professional.

Karena menurutku pribadi, asset utama di production house itu ya crew itu sendiri. Asset hidup yang nggak bisa diperlakukan seperti barang. Bagaimana kita bisa maintain itu kan. Misalnya dengan membangun mood di kantor atau pada saat produksi. Kalau ada suatu produksi yang vibe-nya panas banget atau intense, ya harus bisa cooling down dengan cara guyon-guyon atau makan bareng waktu istirahat. Gitu aja sih.

Apa nih yang bakal People Film lakukan selanjutnya?

Yang pasti kita ingin untuk terus improve. Jujur aja kalo aku pribadi lihat, kuantitas karya yang kita hasilkan bertambah banyak seiring dengan project-project yang kita kerjakan, tapi kalau secara kualitas isi mungkin kita sedikit lari di tempat. Kalau teknis gambar atau output video yang dihasilkan itu bukan tolok ukur, karena hal itu sangkut pautnya dengan kemajuan teknologi aja. Tapi dalam konteks pembuatan cerita atau plot kita perlu banyak improve.

Ini juga nyambung ke kelas inistiatif. Kita ingin membantu teman-teman yang lain. Bukan untuk jadi mentor tapi lebih ke wadah diskusi aja. Platform edukasi lah. Ini juga bisa bantu kita, People Film sendiri untuk bisa menggaet orang-orang yang lebih expert juga.

Adakah project terdekat yang bakal People Film lakukan?

Kalau project terdekat, kita mau produksi MV (music video) untuk suatu band Jakarta namanya Perunggu. Ada beberapa pitching untuk project iklan. Selain itu, kita ada rencana untuk bisa buat project inisiatif, buat film ya. Mulai nyusun proposal untuk beberapa pihak pendukung.

Written by

Share this article

Stay up to date with our content.

Written by

Share this article

Stay up to date with our content.

Bersua Ria Banner

COMMENTS

POPULAR STORIES

MORE ON KULTUR EKSTENSIF

Digital Shitpost account meets underground artistry, see the full collection here.

EXPLORE THE CULTURE,
ENGAGED WITH THE SCENE

Kultur Ekstensif is an independent curatorial media that explores in-depth on culture, lifestyle and everything in between. Our editorial content is not influenced by any commissions.

Subscribe to our newsletter

EXPLORE THE CULTURE,
ENGAGED WITH THE SCENE

Kultur Ekstensif is an independent curatorial media that explores in-depth on culture, lifestyle and everything in between. Our editorial content is not influenced by any commissions.

Stay up to date with our content.

Mixtape This Week