Bersua Ria Banner
Bersua Ria Banner

Tiny Studio “Tiny is Spacious”

Tiny is spacious and the limit is beyond the desk of two people.
Images by Tiny Studio

A big-camp playground created by an adorable couple, Tiny Studio is a fresh put-through among the other creative studios. Ratta and Nadine are always embracing their endearing-radical in a way they put on their best regard of design and art. A grant of creative ego is necessarily the key to their blooming minds. Thanks to Ratta and Nadine for sharing some caring and inspiring inside with us. Catch some of our talks on this BIZGAZE edition.

How did it all begin?

Awal tuh di tahun 2018, kita berdua butuh suatu nama atau entity lah, untuk kita kalau mau bikin sesuatu. Kayak misalnya kita bikin pameran, bikin acara atau biki product, nah pada saat itu kita butuh nama. Jadi lahirlah Tiny Studio di 2018, dengan bisnis model atau kegiatan yang suka-suka.

Cuma seiring waktu, kita juga akhirnya menikah dan Nadine pindah ke Indonesia. Jadi dulu kita long-distance, Jakarta-Paris. Yaudah kita putuskan untuk seriusin Tiny ini. Karena emang salah satu mimpi kita berdua itu untuk punya studio creative bareng lah. Akhirnya yaudah, ini momen yang pas. Gue resign dan full-time di Tiny. Sebenarnya per tahun ini baru bisa dibilang kita serius dengan Tiny Studio. 

First start of Tiny Studio

Ya pada awalnya untuk project suka-suka aja atau untuk bikin pameran aja. Cuma karena kita berdua ini adalah praktisi visual, design dan artistic, jadi mulai kita invest sih.

Udah mulai ngerjain, kerjaan-kerjaan dari temen. Misal untuk cover album, untuk design poster. Kita udah mulai planning investasi nama dengan memakai nama Tiny Studio itu instead of nama-nama personal kita berdua. Karena, dari tahun 2018-2019 kita udah cukup yakin, ke depannya kita mau bikin studio design sendiri. 

Images by Tiny Studio

How do you guys manage to get the spotlight really quick?

Kalau gue tuh kuliah DKV di Binus. Kalau Nadine dia kuliah seni murni di Paris. Ya sebenernya kita menyadari sih, semenjak april kita berdua full-time di Tiny, itu lumayan cepet jalannya ya. Tapi kalo dilihat dari kacamata kita, sebenarnya ada hal-hal yang kita udah hal-hal yang kita berdua sebelumnya pernah accomplished

Kayak misalnya, sebelum di Tiny, gue sendiri udah jadi pernah jadi graphic designer di beberapa tempat. Juga punya record label yang lumayan aktif di industri musik—Kolibri Records. 

Nadine pun dengan caranya sendiri punya banyak temen-temen yang bergerak di bidang bisnis kreatif ada di fashion industri juga. Jadi kita ngerasa udah dari situ sih modal kita ya. Mungkin kita bukan bisnis dengan modal kapital duit yang gede gitu. Cuman dengan latar belakang kita, networking, skill dan ya mungkin sedikit nama baik ya sebagai pekerja kreatif. Itu sudah jadi modal yang cukup lah untuk memulai bisnis ini, toh strategi kita juga, seperti namanya ya. Kita nggak mau cepet-cepet gede dari segi skala sebenernya.

Personal and small, why?

Kayak kita pengen, sebisa mungkin tetap dengan skala kecil. Jangan sampai gede di overhead. Karena itu berarti tanggung jawab secara finansial yang kecil, yang berarti, kalo buat kita, kita punya ruang main yang lebih besar.

Ya karena cost setiap bulannya di-push sebisa mungkin gitu. Cuma pasti resikonya, ada beberapa pekerjaan yang mesti kita pilih-pilih. Terus juga kadang kita mesti kerja seefektif mungkin, supaya  ke-bman kita terpenuhi. Cuma kita nggak takut, karena pada dasarnya, kita banyak look-up ke studio-studio design luar, yang secara skala mereka itu kecil.

Kayak di Belanda ada Experimental Jetset juga. Udah dari tahun 90’an mereka cuma bertiga. Tapi legacy nya tuh luar biasa. Dan, banyak lagi juga, studio-studio di Eropa, yang mereka cuma berlima, kayak nggak nyampe sepuluh. Tapi karyanya keren-keren atau kliennya gede-gede. Itu sih yang buat kita penasaran. Jadi kita terus cari caranya supaya kita bisa kayak gitu. 

Images by Tiny Studio

What’s something that makes you guys different and how do you stick with it?

Kita seneng banget buat digging idealisme kita. Kita sering banget atau suka banget untuk buat apa yang emang kita suka. Misal kita pengen bikin buku doang atau apapun yang sebenernya nggak make sense secara bisnis kan. 

Tapi itu yang kita mau. Cuma, karena kita sekarang berbisnis, kita juga harus mikir secara realistis. Tapi menurut gue, adakala orang-orang kita mikir kalau idealisme itu nggak realistis.Padahal ada jelas-jelas, bukti nyata, banyak orang yang memperjuangkan idealismenya dan hidupnya realistis aja gitu. Kayak hidup-nya jalan-jalan aja.

Akhirnya kita coba pikirin gimana ini bisa works buat Tiny ini. Nah, salah satu caranya adalah go slow. Satu itu, go slow. Kita nggak mau cepet-cepet ngejar klien, apa aja kita iyain, kita nggak pengen kayak gitu. Terus tiba-tiba studio kita membesar, dan mood-nya semua berubah. Kayak tanggung jawab dengan klien yang sudah ada bagaimana, itu yang kita pikirin sih. Misal kita pengennya lebih artistic atau apa, karena Tiny ini kayak personal gitu kan.

Kasihan aja kalo kita udah hire karyawan dan ternyata nggak sesuai dengan mood kita, kena dampak dari ego creative kita. Jadi buat kita sekarang ya, pengen jalan pelan-pelan. Teken overhead, sebisa mungkin supaya keputusan keputusan studio ini nggak terlalu soal duit melulu gitu. 

How do you guys filter the job and stay true with your style?

Kita orang yang cukup sabar sih. Gue mungkin bisa bilang, sampai detik ini kita belum pernah nge-reach klien. Tapi klien datang ke kita. Maksudnya ini bukan sombong ya. Gue ngomong gini karena kita cuma berdua, jadi kayak buat kita, 4 klien tuh udah cukup disaat studio lain 20 klien mungkin aja kurang.

Ya kita mesti realistis. Ok sekarang udah ada projek yang masuk dari temen-temen lama, dan itu udah cukup. Ya ngapain kita harus cari-cari lagi, kalau nantinya bakal berdampak ke pembesaran skala studio yang kita nggak mau. 

So far, filtering klien buat kita terjadi secara organik ya. Kayak filtering klien menurut kita bukan terjadi saat kita pilih-pilih klien. Ini lebih ke bagaimana, proses yang bakalan kita lakukan saat ngerjain project itu. Karena saat lo ketemu klien apapun, lo kan dikasih ruang yang luas untuk merespon brief. Nah itu udah jadi decision making kita. Kita mau dikenal sebagai studio yang kayak apa. Yang main aman aja ngikut mereka, atau kita mau egois dan ikut idealisme kita sendiri. 

Dan so far, kita belajar berdua nih, ego itu hal yang harus kita pertahankan jika kita punya studio design. Ini pasti terpecah dua kubu ya. Ada designer yang, oh kita bener-bener nggak boleh punya ego, harus bener-bener menyesuaikan apa kebutuhan klien. Nah tapi Tiny nih ada di kubu yang harus mempertahankan ego. Karena menurut kita, dari situlah personality bisa keluar. Pendapat opini apapun entah itu salah atau bener. Tapi kita nggak mau dong kasih yang salah. Maksudnya seegois-egoisnya kita, ini egois kita yang menurut kita baik dan bener, misal buat brand lo. 

Yaudah dari situ bakal ter-filter sendiri. Kita sudah bikin seperti apa yang kita mau, ya organically seharusnya klien-klien yang dateng juga yang nyari seperti apa yang kita udah kerjain.  

Images by Tiny Studio

What’s The Best Investment for A Studio Design?

Ya apapun itu, modal awal pasti gimana orang tau kerjaan lo itu baik ya. Kita pun juga ngerasain banget, tiap kita ngerjain sesuatu dan hasilnya ok, kliennya pun seneng, itu akan berlanjut ke kerjaan lain gitu. Entah itu dari dia, atau rekomendasiin Tiny ke orang lain. Yang nomer dua ya presence kita di community sih. Kayak sebisa mungkin kita paham kalo kita emang part dari community itu. Even kita bagian dari komunitas yang lebih besar lagi. Dan, pastinya ada perjuangan collective juga kan. Kita sebagai sesama graphic designer, kita tuh harus punya kemauan yang sama. Sebenernya, kayak, kita pengen ngapain sih? In the bigger picture. Apakah nyari duit doang? Apakah nyari klien-klien gede doang. Nggak kan. Pasti kan kalo kita sering terlibat di suatu diskusi atau baca buku atau artikel soal design, itu sebenernya ada isu-isu yang kita mau perjuangin gitu. 

Bahkan bukan sebagai desainer doang, tapi juga sebagai sebuah generasi. Gue rasa dengan menyadari bahwa kita adalah bagian dari generasi dengan perjuangan yang sama untuk membuat generasi ke depannya lebih baik, itu akan punya impact. Kita gak mau cuma asik sendiri di bubble kita dan saling enggak peduli dengan orang di luar sana.

Singkatnya ya, bagaimana kita present di komunitas. Sama kayak di musik juga. Kita bisa dibilang cross community juga kan, karena gue nge-band juga. Jadi ya lebih kayak, gimana gue give back ke anak-anak musik gitu. Makanya soal pricing gitu, kita nggak pernah patok sama. Misalnya antara suatu band dan musik. Ya karena kita tau perjuangannya beda. Jadi itu bentuk give back kita terhadap musisi juga.  

Dan menurut kita itu nggak sia-sia juga. Itu modal kita juga untuk nantinya kita bisa dapet kerjaan-kerjaan bagus dan dapet klien-klien ke depannya. 

Tiny Studio in Three Words

Nomer satu, open mindset. Itu berlaku selalu. Kayak, dari hal seluas respon klien yang mungkin nggak seperti kita orangnya, latar belakangnya beda. Atau kita dapet brief yang familiar atau yang menurut kita keren atau apa, ya kita tetep harus open mindset dulu. Dan mau denger, ceritanya kayak apa. Hal seluas itu, sampai hal teknis kita-kita graphic designer aja yang tau. Kayak misalnya pemilihan typeface atau ilustrasi.

Ya kita nggak mau jadi designer yang kayak, nggak mau ah pake comic sans. Atau jangan pake arial, karena menurut para designer itu jelek loh. Kita kayak, masih sih gitu?Justru ketimbang orang-orang yang asal-asalan pake font bajakan, kita lebih appreciate orang-orang yang pake dafont sih, jujur aja ya. Yaudah open mindset aja, cobain semuanya.

Kita juga ingin menekankan proses kolaboratif juga ya. Jadi kita nggak menganggap klien dengan batasan seperti, yaudah kita graphic designer dan dia klien. Tapi kita tuh nyebutnya, “our collaborator”, siapapun klien kita. Walaupun ini yang bentuknya jasa aja ya. 

Karena menurut kita seru, sebagai studio design, kita berkesempatan untuk merespon brief yang berbeda-beda dari setiap klien. Porsinya hampir fifty-fifty lah. Karena tugas designer kan merespon aja sebenernya dalam bentuk visual dan design. Nah kalo si klien nggak ngasih starting point-nya, output-nya bakal kayak design-design keliwetan di Instagram doang.   

Ya gue nggak bermaksud menyinggung satu dua pihak, gue sendiri mungkin gitu. Tapi kayak nggak seru banget, design-design yang keren yang no context. Ya mungkin mereka lagi suka satu font tertentu dan lagi explore. Tapi buat gue tuh lebih seru, kalo bisa berkontak langsung dengan orang lain, dengan brief asli. Karena itu yang buat design loh jadi nyata dan matter. Jadi itu nomer dua, berkolaborasi dengan klien.

Yang ketiga basic sih, project management ya. Karena tanpa project management yang baik, semua awur-awuran juga gitu. Oke style boleh radikal, lo buat yang nyebrang banget. Tapi menurut kita, semua harus dimanage se-professional mungkin. Kita pun juga kerja di rumah, tapi ada office hour. Kita tetep pakai celana panjang dan lain-lain. 

Ya itu bagian dari, bagaimana kita manifesting untuk kerja secara profesional aja sih. Pengaturan timeline yang baik, pembagian porsi kerja yang baik itu juga penting untuk bikin karya yang oke dalam versi Tiny. 

Images by Tiny Studio

Split out the tasks. How do you guys do that?

Sebelumnya, jobdesk kita berdua ini kita yang bikin sendiri ya. Gue sebagai design director yang mana gue responsible terhadap keputusan-keputusan design-nya, kayak layout, type, dll. Meanwhile, Nadine sebagai art director yang responsible terhadap keputusan yang berbau artistic, seperti style-nya mau dibawa kemana, terus creative thinking dari segi artistic. Di luar itu, kayak urusan project management, bagi-bagi timeline dan segala macem, itu kita bagi dua. 

Misal ada project dateng, kayak yaudah siapa nih yang bisa handle gue sendiri apa Nadine. Consideracy nya antara, siapa yang load nya lagi full atau si klien nih temennya siapa. Kayak kira kira kliennya lebih nyaman ngobrol sama orang kayak Ratta atau Nadine ya. 

Ya itu project management dan finance kita lakuin berdua. Sisa nya kita juga lakuin bareng-bareng. Soal pengerjaan project-nya, itu selalu kita rotate. Jadi nggak melulu ini kerjaan yang Nadine suka harus Nadine yang ngerjain. Kadang ada case kayak, ini Nadine nggak familiar sama layouting, tapi coba aja deh. Ini bagian dari open mindset kita juga. 

Kita ya suka nyoba hal yang nggak biasa. Seorang dengan latar belakang seniman disuruh nge-layout buku, itu kan structural banget kan. Ya siapa tau hasilnya bakal out of the box. Toh pada akhirnya, kita akan selalu revisit bareng-bareng. Dan saling jagain karya masing-masing. Cuma sebisa mungkin kita selalu rotate atau rombak supaya outputnya nggak boring atau repetitif gitu. 

How does it feel to go against the stream?

Sebernya kita nggak ada niatan untuk studio ini jadi yang gimana-gimana, radikal banget gitu, nggak. Tapi balik lagi, karena landasannya personal, kita bener-bener ngelihat sesuatu dan menilai itu berdasarkan apa yang kita suka aja. Yang ngestimulasi perasaan kita kayak, oh ini seru nih.  Dan, pada dasarnya kita berdua nih orang yang suka sesuatu yang baru ya. Misal, instead of dengerin satu album atau satu artist yang sama, kita lebih kayak, oh ada apa nih yang baru.  

Dan ternyata banyak hal-hal baru yang nyebrang, tapi kita suka. Dan juga itu lebih seru buat kita. Contohnya, dari banyaknya design majalah yang bagus-bagus, ternyata yang nyangkut di kita tuh majalah bisnis. Itu Bloomberg Businessweek, kenapa gitu? Karena, itu nyebrang banget sih, kalo lo pernah lihat.  

Itu majalah bisnis kayak buat pebisnis gitu, bener-bener isinya kayak, tips-tips bisnis, kurs uang gitu-gitu. Cuma designer nya kayak bisa nge-design satu issue dengan comic sans. Atau dia bisa kayak, ngecoret-coret semuanya pake ilustrasi yang absurd. Kadang ada kritik sosialnya juga. Ya kayak gitu-gitu adalah hal radikal. Dan setelah kita telusuri ternyata tim nya emang gila-gila sih. Emang diisi sama designer-designer New York yang lagi trendy banget. Tapi gue malah lebih salut sama tim redaksi majalahnya yang memperbolehkan para designer ini, bikin majalahnya jadi seperti itu. 

Jadi gue rasa ini berkaitan dengan point open mindset tadi ya. Ya kita semua jangan terlalu berada di comfort-zone. Misal lo suka sama satu album atau design yang kayak gini. Ya lo jangan stick di situ terus. Cari apa yang lagi seru, apa yang baru. Dan kita terbuka banget sama hal-hal seperti itu dan bisa dilihat dari output kerjaan Tiny sekarang. Saking terbukanya kita, mungkin di mata orang kita terlihat “radikal” tanpa sengaja gitu. 

What’s the dopest achievement and collaboration so far?

Achievement, pertama kita surprise juga gimana Tiny ini bisa bertahan sampai detik ini dan kita ngelihatnya semakin seru. Kalo kolaborasi seru, gue bicara recently nih, kita suka kerja sama dengan Spoon. Eh itu culinary, dia chef Indo yang kerja di UK. Kita suka, karena ini chef tuh kayak nyentrik banget. Dia bisa nge-challenge kita. Dia juga punya insight terhadap dunia artistic dan apa yang dia mau. Kita nggak expect aja itu dateng dari seorang chef. Dia bahkan punya vision terhadap output artistic yang seperti itu. Kita jadinya bisa menyambut dengan seru juga, kita suka dan kita merespon dengan cara kita yang ternyata cocok dan dia suka. Dan hasilnya, dateng ke acara masak dengan vibe yang kayak gitu kayak dapet sebuah experience yang baru gitu. Jadi itu si so far, kolaborasi favourite dari kita. 

Written by

Share this article

Stay up to date with our content.

Written by

Share this article

Stay up to date with our content.

Bersua Ria Banner

COMMENTS

POPULAR STORIES

MORE ON KULTUR EKSTENSIF

Digital Shitpost account meets underground artistry, see the full collection here.

EXPLORE THE CULTURE,
ENGAGED WITH THE SCENE

Kultur Ekstensif is an independent curatorial media that explores in-depth on culture, lifestyle and everything in between. Our editorial content is not influenced by any commissions.

Subscribe to our newsletter

EXPLORE THE CULTURE,
ENGAGED WITH THE SCENE

Kultur Ekstensif is an independent curatorial media that explores in-depth on culture, lifestyle and everything in between. Our editorial content is not influenced by any commissions.

Stay up to date with our content.

Mixtape This Week