Bizgaze: Manual Jakarta the Standards of Truth and Fairness in Journalism

Learn how Manual Jakarta uphold the idea of being innovative and pragmatic media.

Manual Jakarta adalah sebuah online magazine featuring the best cafes, bars, restaurants and shops in Jakarta yang didirikan pada tahun 2013 oleh Hadi Ismanto.

Pada episode Bizgaze ke-5 ini kami berkesempatan untuk berbincang mendalam dengan Hadi Ismanto, founder dari Manual Jakarta tentang bagaimana Manual Jakarta berkembang, monetize, mempertahankan nilai-nilai jurnalisme dan turut serta memperbaiki ekosistem jurnalisme di Indonesia sebagai media.

Simak obrolan kami berikut ini:


Boleh perkenalan diri sedikit tentang background pribadi..

Hi.. nama gw Hadi Ismanto, background gw bergerak di bidang media. Karena dari zaman SMA gw memang udah tahu “media is where i wanna be in”, almost 8 years ago gw sudah berpikir apa yang harus gw selami dan apa yang dibutuhkan untuk mengembangkan Indonesia. Gw juga 4 tahun terakhir ini kebetulan membantu di ADGI Pusat (Asosiasi Designer Grafis Indonesia) sebagai direktur komunikasi.

Bagaimana awal mula terbentuknya Manual Jakarta?

Manual Jakarta pertama tercetus di 8 tahun lalu yang memang visi misinya dari dulu sampai sekarang adalah i’m not trying to create the coolest or hits magazine. Tapi, yang diinginkan adalah memperbaiki standar industri media di Indonesia. sebenarnya Manual Jakarta adalah sebuah pilot product karena pada zaman itu transisi media offline ke online sangat gencar dan kebetulan gw punya privilage untuk berkuliah di Singapore dan Australia, dan gw punya kesempatan bisa melihat where the world is heading and where Indonesia is gonna head to. Jadi, selama ini gw coba membangun ekosistem industri media ini lewat holding company gw New Media Folder yang menaungi beberapa product/brand yang salah satunya adalah Manual Jakarta.

Apa Manual Jakarta menurut Hadi Ismanto?

Manual Jakarta is a lifestyle publishing yang bukan berangkat dari sisi media is a business tapi dari etika dan amanat media itu sendiri yang sebenarnya sudah mulai hilang di Indonesia. Kalo kita lihat kembali tujuan media untuk society itu sebenarnya apa, dan bukan cuma dengan konten atau program yang tidak berkualitas atau tidak mengedukasi saja.

Memang sebenarnya bisnis model dari sebuah media adalah semakin banyak dapat atensi pada media tersebut, akan semakin banyak uang yang di dapatkan. Disini yang gw inginkan dalam membuat media adalah gw tidak mau menghilangkan nilai jurnalisme dan amanat dari media itu sendiri, bahwa media itu punya tanggung jawab untuk mengedukasi dan mengangkat sebuah cerita yang layak untuk disebarkan kepada banyak orang, bukan karena kita dibayar untuk mengangkat sesuatu.

Karena kalau dulu sudah jelas ada media iklan, media brand atau media of the people sehingga setelah kita masuk ke dunia digital, dinding-dinding pembatas itu mulai runtuh dan kita mulai sulit untuk tahu berita ini akurat atau tidak, konten ini iklan atau bukan dan bahkan ini di bayar gak sih, karena marketing sudah menguasai itu.

Kenapa Manual Jakarta memutuskan untuk tidak berangkat sebagai media is a business atau dibayar untuk feature kontennya?

ya walaupun terdengar ekstrim tapi, sebenarnya our decision untuk tidak menerima paid promote atau paid feature adalah that’s how media should be like or that’s media has been, bahwa kita angkat berita itu originally dari kita sendiri. Memang pasti kita juga menawari oportunity lain seperti content sponsorship atau content partnership tapi itupun masih tetap ada batasannya.

Pada tahun 2013 lahirnya Manual Jakarta, kita tahu digitalisasi masih belum sebesar sekarang. Apa alasan Manual Jakarta berani untuk mengambil keputusan menjadi sebuah media online?

Sebenarnya di tahun itu sudah ada beberapa media besar yang menjadikan media mereka menjadi online dan kita bisa lihat banyak sekali blogger yang lahir pada saat itu.

Dari situ gw as an entrepreneur pasti you need to be able to look forward dan untuk apa kita melakukan sesuatu yang sudah pernah dilakukan, ditambah dari sisi timeline kalo kita mengembangkan bisnis it takes a lot of time to develop and it could be a year or two years before that business launch.

Jadi kita melakukan sesuatu dengan melihat kaca mata apa yang sudah dilakukan, by the time kalau kita sudah selesai membangun bisnis itu dan siap jalan, you’ll never know mungkin itu bukan lagi yang di butuhkan audience dan sudah saatnya Indonesia punya media brand yang masih menjalankan amanat tapi at the same time masih bisa mengikuti relevansi zaman.

Banyak sekali anak muda yang ingin membangun sebuah media yang mungkin relate dengan kota mereka sendiri, kita tahu dari nama Manual Jakarta ada kata “Jakarta” disitu. Yang pastinya mengutamakan kota Jakarta itu sendiri, Bagaimana Manual Jakarta bisa membuat/menemukan target marketnya?

Dari awalnya gw tahu bahwa Manual Jakarta akan menjadi publikasi yang sifatnya niche market dan gw tidak menganggap bahwa gw akan menjadi konglomerat media, manage expectations dan bukan itu yang ingin gw capai.

Untuk mengetahui marketnya gw selalu memantau bagaimana sih industri media yang ada di Indonesia, dan kalau ngomongin tentang market sebenernya itu berangkat dari diri gw sendiri dan teman-teman sekitar gw dengan kegelisahan yang kita punya. Bahwa di Jakarta pada saat itu there’s a gap untuk orang-orang yang punya privilage mendapatkan edukasi yang baik dan mempunyai privilage mengakses informasi dari luar negeri, kebutuhan orang-orang seperti itu tidak bisa dipenuhi.

Gw masih inget banget pada saat itu gw coba cari di google “ The most romantic cafe in Kemang, Jakarta” and i did not get my answer, Karena apa yang menurut gw romantis mungkin tidak sama dengan apa yang di anggap media besar saat itu romantis. Karena kembali lagi mungkin banyak media besar pada saat itu tidak melakukan riset mereka sendiri dan mungkin bahkan jurnalisnya tidak datang langsung ke tempat yang mereka review.

Based on that issue, gw merasa ada gap untuk market seperti ini. Not necessarily market seperti berasal dari orang kaya atau orang yang berkecukupan. Tapi, mereka itu orang yang cukup peduli, paham dan mau tahu apasih konteks dari sebuah brand dan informasi. Of course i have to be fair and honest menurut gw ada media yang gw sangat respect sekali adalah Whiteboard Journal, gw juga belajar banyak dari situ.

Apa bisnis model dari Manual Jakarta ?

Sebenarnya jujur gw belum menemukan bisnis model yang tepat untuk Manual Jakarta yang ingin tetap mengedepankan jurnalisme, original content dan interview yang bibit bebet bobotnya jelas, tapi costingnya tidak setinggi itu.

Kalau kita kembali ke deskripsi Manual Jakarta “a lifestyle publishing”, Apa arti lifestyle dan publication untuk Manual Jakarta?

Lifestyle sendiri buat gw seperti arti Bahasa Indonesianya itu sendiri, “gaya hidup”. Cara dan pilihan yang diambil dalam menjalani hidup makanya lifestyle sering kali dikaitkan dengan sport, fashion, music, FnB, etc. Karena hal-hal ini juga sering sekali menjadi pilihan banyak orang dan bahkan cara menabung atau menabung dimana itu juga bisa masuk ke kategori lifestyle, dan seiring waktu kategori lifestyle itu bertambah dan berubah-ubah.

Kalau publication sendiri sederhananya adalah publishing things. Kalau kita bisa menganalogikan, coffee shop itu menjual kopi berarti publication yang dijual adalah informasi dan konten sebagai produknya. Menurut gw definisi publication juga berubah-ubah. Definisi publikasi hari ini , 5 tahun lalu bahkan 10 tahun lalu sudah berubah drastis.

Photo by Manual Jakarta

Bagaimana Manual Jakarta monitizing publicationnya?

Pastinya berbeda dengan jika kita misalkan lagi seperti coffee shop, yang secara bisnis it’s very direct seperti customer beli kopi, berapa harga kopinya, berapa yang menjadi keuntungan dan berapa banyak kopi yang di beli. Sedangkan publication it’s different, sebelum kita bisa menguangkan media kita harus dapat audience dulu, jadi investasi yang diletakkan didepan secara effort, secara uang, waktu dan tenaga itu semuanya sangat besar tanpa ada jaminan media ini bisa menghasilkan uang.

Intinya adalah sebagai pebisnis kita tahu ada 3 revenue channel B2B, B2C, B2G. Menurut gw yang agak disayangkan dengan perkembangan zaman adalah barrier of entry untuk memulai media itu sangat mudah karena semua orang bisa jadi media bahkan kalau gw mau jadi influencer gw juga bisa jadi media. Banyak yang masuk ke dunia media hanya melihat surface levelnya, misalkan gw banyak follower, gw di endorse mungkin juga gw dapat this kind of prestige bahwa gw yang punya media ini. Tapi, akar-akar dari media itu sendiri tidak dipelajari dan diketahui.

Kalau bisa di jabarkan B2C media seperti menjual eksemplar koran, majalah dll. B2B mungkin bisa lewat advertorial, sponsorship mungkin partnership dan kalau buat Manual Jakarta sendiri kita mengambil niche market yang kita punya dan kita tawarkan kepada brand, sponsorship atau partner itu. Bahwa di Manual Jakarta punya kualitas audience yang cocok.

Kita juga bisa menawarkan people service seperti agency work karena gw punya tim yang handal dibidangnya seperti penulis, desainer, photographer, dan jasa ini yang gw juga bisa jual untuk perusahaan yang membutuhkan itu. The first 3 or 4 years how we sustain the company as a collective sampai dilevel bisa monetizing.

Seberapa penting sebuah platform untuk media?

sangat penting dan relatif tergantung audience media itu sendiri, Di zaman sekarang banyak sekali platform untuk bisa digunakan sebuah media, semua kembali ke media itu sendiri. you need to ask yourself what kind of media do you wanna be, what your objective as a media dan who your audience is.

How about media yang hanya copy/paste some news or content? dan seberapa penting tim untuk sebuah media ?

Kembali lagi sebenarnya tujuan dari media itu sendiri, gw tidak ada masalah dengan media yang kita bisa bilang media repost yang gw permasalahkan adalah jika media repost tersebut mengaku sebagai media jurnalistik dan merepost hal-hal tanpa izin atau dengan etika jurnalistik yang proper. Sayangnya di Indonesia masih banyak banget yang repost atau copy/paste tanpa ada etika jurnalistik.

Kalau tim untuk sebuah media menurut gw sangat penting dan sangat berpengaruh terhadap media itu sendiri.

How you handle press release from some brands?

The purpose of press release menurut gw seperti press conference sebuah brand yang mengundang beberapa media untuk me-review, dan brand tersebut tidak bisa mendikte media tersebut. Press release tersebut juga hanya kita gunakan untuk mendapatkan informasi.

Balik lagi kepada tujuan media tersebut menjadi media yang hanya menginformasikan saja atau menjadi media yang memberikan value tertentu atau kritik dan ini sudah banyak hilang dari media di Indonesia. Mungkin itu yang brand butuhkan dari sebuah media, bahwa mereka ingin ada perwakilan dari masyarakat karena tugas publikasi sendiri mempunyai amanat to educate the audience.

Bagaimana dengan fenomena banyaknya bermunculan media baru?

It’s a double-edged sword, di satu sisi pastinya sangat positif, gw sadar bahwa kalau gw mau memperbaiki industri media di Indonesia gw tidak bisa sendirian jadi dengan lebih banyak media yang muncul apalagi media-media anak muda yang berusaha melakukan hal baik gw sangat welcome. Contohnya even kayak Hypebeast buka Hypebeast Indonesia tidak ada satupun rasa insecurity dari gw, karena gw merasa gw kenal dengan orang yg dipercaya oleh Hypebeast dan gw tahu apa yang mereka berusaha capai. I mean if you noticed mereka tidak media yang press release copy/paste, dan itu sangat di butuhkan.

Sisi negatifnya mungkin kalau media-media yang ada itu hadir hanya sekedar untuk cuma ingin keren atau ikut-ikutan, itu sangat disayangkan karena itu bisa jadi sebuah polusi informasi.

Photo by Manual Jakarta

Baru-baru ini Manual Jakarta rebranding dari identity lama ke yang baru, menurut Manual Jakarta seberapa penting desain untuk Manual Jakarta?

Penting, Setelah kita masuk ke-8 tahun ini, kita merasa kita siap masuk ke market B2C makanya kita jual produk kita sendiri. Didunia media bisnis model yang sering dipertanyakan adalah why would people buy for content? why would people pay for media? and what are they trying to get?. Dan itu hal-hal yang kita eksplor, yang sayang sekali banyak media di Indonesia yang sudah terlanjur memilih langkah kuantitas dibanding kualitas itu sangat dimengerti kalau mereka susah untuk market B2C.

Banyak media di Indonesia tidak berhasil karena mereka hanya bertindak sebagai publikasi dan karena brandingnya tidak dipikirkan ketika media itu hilang tidak ada yang ingat akan media tersebut. Karena kalau kita bicara tentang dunia desain grafis a symbol is quite important it can tell you so much more.

Kita rebranding juga karena kita mempersiapkan beberapa plan untuk masuk ke B2C market jadi kita bisa mungkin perlahan-lahan tidak terlalu bergantung pada brand-brand partnership atau sponsorship.

“Truth strength come from to say no”

Hadi Ismanto

Manual Jakarta dikenal dengan media yang cukup idealis terhadap content dan penulisannya, how you stick up for that idealism?

Kita memiliki visi yang jelas, dan tidak berkata iya untuk apapun kesempatan yang ada. Memang banyak pressure sebagai media mungkin yang berpikiran “gw harus meliput ini dan itu, atau gw harus yang pertama naikin berita ini” , karena pressure itu banyak media close down karena mereka merasa uangnya sulit tapi kerjaannya banyak dan ribet banget ya..

Tips and tricks untuk orang-orang yang sedang membangun media?

“First, Always find your WHY”

Karena jika kita memiliki sebuah “kenapa” yang kuat dan personal, menurut gw itu hal yang paling penting sebelum menjalani apapun. Mungkin the most important keyword is genuine.

Kalau bisa mengibaratkan sebuah objek, menurut Hadi Ismanto Manual Jakarta itu apa?

Kembali ke esensi nama Manual itu sendiri, kita ingin jadi intruction manual atau buku panduan dan i think that’s what the society needs. Mereka butuh an instruction manual untuk menjawab semua pertanyaan mereka, we’re trying to be an instruction manual for how you should operate the city, this is how you should navigate the city, this is the people you should know, this is the issue you should know.

Thank You Hadi Ismanto and Manual Jakarta..

Written by

Share this article

Stay up to date with our content.

Written by

Share this article

Stay up to date with our content.

COMMENTS

POPULAR STORIES

MORE ON KULTUR EKSTENSIF

Utilization of wasted furniture around the studio

EXPLORE THE CULTURE, ENGAGED TO THE SCENE

Kultur Ekstensif is an independent curatorial media that explores in-depth on culture, lifestyle and everything in between. Our editorial content is not influenced by any commissions.