“Poser” Si Pencari Validasi untuk Diterima

Validasi dalam suatu perkumpulan dapat memunculkan suatu fenomena seperti "Poser".

“Poser” Si Pencari Validasi untuk Diterima

Validasi dalam suatu perkumpulan dapat memunculkan suatu fenomena seperti "Poser".

Pernahkah kalian berteman dengan seseorang yang sering kali menggunakan kaus dari suatu band dan iseng bertanya, “Kamu suka lagu yang mana dari band itu?” yang dijawab dengan raut muka kebingungan — menyiratkan ia tidak mengenal band tersebut dengan baik.

Orang yang tidak tahu-menahu soal band tetapi menggunakan kausnya ini sering kali dianggap sebagai poser, yaitu seseorang yang berpura-pura menyukai suatu hal tanpa memahami sepenuhnya nilai sebenarnya. “A person exhibiting foolish or flighty behavior,” adalah pengertian poser yang ditulis dalam situs urbandictionary. Poser dapat ditemukan di berbagai kalangan, seperti industri musik, perfilman, olahraga (terutama sepak bola dan skateboard), juga komunitas penggemar lainnya.

Terdapat beberapa penyebab mengapa seseorang dapat menjadi poser. Seperti skenario di atas, poser dapat disebabkan oleh anggapan bahwa jika seseorang menyukai hal tertentu — seperti band beraliran rock dan metal — maka orang itu ‘keren’. Kesukaan itu, salah satunya, disalurkan dengan menggunakan kaus band sebagai sesuatu yang membanggakan.

Sayangnya, hal ini justru membuat banyak orang asal menggunakan kaus sebuah band tanpa benar-benar mengenali band tersebut. Perilaku ini membuat para penggemarnya jengkel, yang melihat tindakan tersebut sebagai ‘pencemaran’ dan bentuk tidak menghargai karya suatu band. Terlepas dari itu, maraknya penggunaan kaus band didukung oleh kemunculan tren fashionHal ini dapat dilihat dari produksi kaus band yang tidak hanya berasal dari label rekaman, melainkan dari berbagai merek fast-fashion, seperti Stradivarius, Pull & Bear, Zara, dan lainnya yang menjual pakaian dengan identitas band.

Selain memakai kaus band, seseorang juga dapat menjadi poser dengan tujuan mencari perhatian, bahkan agar diterima oleh pergaulan tertentu. Perilaku pura-pura menyukai suatu hal dianggap sebagai usaha untuk menampilkan diri dan mendapatkan validasi dari khalayak umum. Tidak hanya dalam ranah pergaulan, hal ini juga dapat dilakukan saat seseorang berusaha untuk mendapatkan perhatian seseorang yang ia sukai.

Last but not leastposer disebabkan oleh adanya ketakutan untuk tidak merasakan apa yang orang lain sedang rasakan, atau yang dikenal sebagai Fear of Missing Out (FOMO). Seseorang yang merasakan FOMO memiliki persepsi bahwa orang lain sedang bersenang-senang tanpa dirinya ataupun mengalami hal yang lebih baik daripada dirinya sendiri. Contohnya, waktu teman-temannya sedang asik membahas klub sepak bola favoritnya, ia adalah satu-satunya orang yang tidak memahami topik tersebut. Rasa ketertinggalan tersebut memaksa seseorang untuk mencari tahu, bahkan pada akhirnya menyukai sepak bola, agar tidak ketinggalan pembahasan seputar sepak bola lagi.

Dari contoh tersebut, poser masih diyakini sebagai perilaku yang sering dilakukan. Padahal, tanpa menjadi poser pun, tujuan mereka dapat tercapai. Keinginan untuk mendapatkan perhatian hingga diterima oleh teman-teman itu merupakan hal yang wajar. Namun, apakah kamu tidak ingin dikenal sebagai jati dirimu — sebagai seseorang yang menyukai sesuatu yang memang kamu sukai?

Penulis menarik kesimpulan bahwa poser adalah seseorang yang tidak memiliki jati diri. Apakah kamu ingin dipandang sebagai seseorang yang tidak memiliki jati diri? Kalau secara pribadi, penulis tidak. Tidak ada salahnya untuk menjadi diri sendiri, bukan berpura-pura sebagai orang lain. Tidak apa-apa jika kamu tidak menyukai apa yang digemari oleh masyarakat, karena hal tersebut bukanlah standard. Mungkin saja, kamu nanti akan bertemu dengan orang-orang yang memiliki ketertarikan yang sama. Jadi, sukailah apa yang kamu sukai, hiduplah hidup yang ingin kamu hidupi — bagaimanapun itu.

Stay up to date with our content.

Share this article

POPULAR STORIES

COMMENTS

Bersua Ria Banner

MORE ON KULTUR EKSTENSIF

Digital Shitpost account meets underground artistry, see the full collection here.

EXPLORE THE CULTURE,
ENGAGED WITH THE SCENE

Kultur Ekstensif is an independent curatorial media that explores in-depth on culture, lifestyle and everything in between. Our editorial content is not influenced by any commissions.

Subscribe to our newsletter

EXPLORE THE CULTURE,
ENGAGED WITH THE SCENE

Kultur Ekstensif is an independent curatorial media that explores in-depth on culture, lifestyle and everything in between. Our editorial content is not influenced by any commissions.

Stay up to date with our content.

Mixtape This Week