Sequence 002: Enola ‘Does Anyone Else’ Listening Party

Drowning in waves of blues with Enola.

Lahir di pertengahan 2019, kedatangan unit sludgegaze Enola bisa dibilang mendapat sambutan yang cukup hangat tidak hanya di Surabaya namun juga di luar itu. Salah satu panggung pertama Enola adalah sebagai aksi pembuka penampilan band Amerika, Nothing, yang merupakan garda terdepan gelombang musik post-shoegaze. Dua single pertama mereka “Skin to Skin” dan “Fill the Void” pun juga mendapat apresiasi yang sangat baik di skena underground.

Semuanya terjadi dengan cukup cepat untuk Enola. Termasuk, pada momen baik tersebut, mereka justru harus berhenti sejenak karena vokalis pertama mereka hengkang, disusul alasan mental health personil lainnya–yang dalam situasi apapun memang harus lebih diprioritaskan ketimbang kegiatan berseni.

Hingga pada suatu rabu di pertengahan tahun 2021 akhirnya Enola kembali bangkit dengan merilis “Blue Waves” dengan kejutan baik bahwa lagu tersebut diramaikan oleh indie powerhouse Angeeta Sentana dari Grrrl Gang. Yang saya ingat, single ini dirilis pada hari yang sama saya berusaha merampungkan buku Bluets (2009) milik Maggie Nelson. Bayangkan betapa birunya hari saya itu.

Melihat footprint yang telah mereka cetak sejak pertama datang hingga lagi-lagi diafirmasi oleh “Blue Waves” saya menyadari betapa birunya emosi yang Enola coba tuangkan ke dalam musik mereka. Selain tempo lambat (doomed), saya memperhatikan kalau mereka cukup enggan menyentuh progresi mayor yang bisa memberikan kesan harap.

Musik Enola memanifestasikan kesedihan dalam bentuk paling memilukannya. Seolah tidak ada ruang untuk berbahagia dalam musik mereka.

Ketiga lagu yang saya sebut tadi menjadi penghantar Enola ke statement musikal terbesar mereka sejauh ini: sebuah EP berjudul Does Anyone Else. Kenapa ‘Does Anyone Else’? Mempertanyakan makna judul sebuah album, sebagaimana prosedur standar yang saya lakukan ketika menganalisa sebuah rilisan.

Interpretasi pertama saya dan yang mungkin lebih akurat adalah pertanyaan sang narator apakah ada orang ketiga dalam hubungan romantis dia. Sedangkan interpretasi kedua yang mungkin lebih fitting untuk tulisan ini: Enola ingin memastikan adakah orang lain yang merasakan kesedihan yang sama dengan mereka?

Sebelum dirilisnya Does Anyone Else, Enola pun mempersembahkan sebuah early listening session yang menampilkan keseluruhan EP tersebut dengan sedikit alterasi pada urutan setnya, Mengajak teman-teman untuk berbagi kesedihan tersebut secara kolektif, in person, ‘skin to skin,’ setelah lama juga di Surabaya tidak ada pertunjukan musik. Sekaligus, mungkin, mencari jawaban atas pertanyaan ‘Does Anyone Else’ feel this way? 

Dengan jumlah tiket yang terbatas–karena kondisi pandemi–rupanya cukup banyak yang hadir. Mungkin, mereka semua datang dengan pertanyaan dan perasaan biru yang sama. Dan hal tersebut sudah cukup untuk menjadi bukti bahwa Enola tidak sendirian, kami pun merasakan kepedihan yang sama.

Jika anda sedang berada di laman ini dan merasakan kebingungan yang sama, kami ucapkan: Selamat datang. Anda telah menemukan ruang yang tepat untuk berbagi momen kebingungan, mencari pelarian (atau jawaban) dengan menenggelamkan diri ke dalam gelombang biru kebisingan yang meski jauh dari kata bahagia tadi, tapi semoga dapat mematikan rasa yang menggelisahkan anda.

Walaupun pada akhirnya yang anda lihat adalah sebuah rekaman dan bukan interaksi ‘skin to skin’ tadi, tapi kami bersyukur dapat membagikan momen ini kepada kalian melalui layar-layar perangkat kalian.

Ladies and gentlemen, it’s time to fill the void with Enola.
– Jody Muhammad

Recorded on May 9, 2021 at Flores 15.

Enola are:
Adi Fikri (Drum & Vocals)
Dwiki Alfian (Bass & Vocals)
Faizal Rachmansyah (Guitar)

Watch Enola Sequence Session Full Performance below.

SETLIST

“Skin to Skin”
“Sunyata”
“Fill the Void”
“Blue Waves”
“Does Anyone Else”

CREDITS

Produced by Artefakt Records

Program Coordinator: Bhagus Subadie, Ayu Linda H. S.
Visual Director: Bayu ‘Paktuwa’
Camera Person: M. Y. Rakapradana, Ayughia, Jonathan Satriyo, Rizky Hartawan
Visual Jockey & Visual Assets: Daren Bean
Still Photos: Vito Hogantara 
Offline Editor: Ayughia
Online Editor: Yonatan Christie, Jeremy Galih Mawardi
Sound Recordist: Guruh Satria, Haydar Narendradhipa
Mixing and Mastering: Ando Loekito

Venue provided by Flores 15

Special thanks to Greedy Dust, nøl.coldwhite, Bebek Tanamera, Hand Werker, Pintu Tenggara, Adi Fikri and Rafif Taufani.


SEQUENCE is a series of documented live performances by up-and-coming local acts hailing from and around Surabaya, East Java. The idea was initiated and executed to achieve a unique—once-in-a-lifetime performance as well as to help the bands attract and get discovered by a broader spectrum of listeners; especially outside of their home turf.

Written by

Share this article

Stay up to date with our content.

Written by

Share this article

Stay up to date with our content.

COMMENTS

POPULAR STORIES

MORE ON KULTUR EKSTENSIF

To put all the creative heads are the bright way to engage the scene.

EXPLORE THE CULTURE, ENGAGED TO THE SCENE

Kultur Ekstensif is an independent curatorial media that explores in-depth on culture, lifestyle and everything in between. Our editorial content is not influenced by any commissions.