Search
Close this search box.
Search
Close this search box.
Sexuality In Our Pop Songs And How They Misconduct

Sexuality In Our Pop Songs And How They Misconduct

Terlepas dari elemen seni dan kreatifitas, musik menyimpan cerita yang sanga bisa disalah artikan.
Sexuality In Our Pop Songs And How They Misconduct

Sexuality In Our Pop Songs And How They Misconduct

Terlepas dari elemen seni dan kreatifitas, musik menyimpan cerita yang sanga bisa disalah artikan.

Musik, apa itu musik? Nyanyian, instrumental, dan nada. Namun lebih dari itu, musik bernyawa, inspiratif, eksploratif, eksperimental dan imajinatif. Kalian meluapkan ide-ide gila, cerita sehari-hari, apapun hingga fantasi imajinasi ke musik.

Bagaimana apabila musik dipengaruhi oleh seksualitas?

Seksulitas komersil telah menjamur, bahkan unsur ini ada pada iklan snack luar negeri (Payday Candybar, 2014). Namun yang terjadi pada musik, terutama lagu pop cukup mencengangkan. Like, why most of them are about sex?

Seks adalah kebutuhan, natural dan menjual. Popularitas yang mereka cari akan mereka dapat. Semua orang tertarik pada seks, wanita dan pria. Seks merupakan kebutuhan psikologis, sifat natural manusia, disinilah potensi pasar dari industri kreatif terutama musik.

Sebenarnya, musik yang bercerita tentang seks telah ada sejak dulu seperti tahun 1931 dengan judul Pin In Your Cushion oleh Bo Carter. Namun perbedaannya terdapat pada packaging-nya, stage presence merubah suasana menjadi sensual dan vulgar.

Bagaimana pelakunya? Penyanyi hingga produser?

Terdapat suatu kasus, dimulai pada tahun 2014 yang menimpa Kesha. Dia mengaku mendapati pelecehan seksual dari produsernya Dr. Luke, mulai secara verbal hingga fisik. Kasus ini sempat mendapat eksposur dari penyanyi lainnya seperti galang dana yang dilakukan oleh Taylor Swift dan tagar #FreeKesha. Kasus seperti ini masih sangat tertutup bahkan sedikit yang berani angkat bicara. Pengakuan miris Lady Gaga, dia pernah mengalami kekerasan seksual pada umur 19 tahun.

Dampaknya miris, wanita dijadikan objek seksual.

Industri kreatif mengejar popularitas dengan target profit. Sebagian mereka yang menggunakan cara ini memberikan lagu siap saji pada talent-nya. Proses kreasi cipta lagu tidak diserahkan pada talent. Hasilnya, bukan representasi diri sendiri.

All we know is their beautiful songs, relatable and joyous. Pop musical industries work as

a commercial product, they provide what we need. But there is always ups and downs

behind their stories, or is it worse?

Industri ini dengan mudah bermain popularitas dengan visual maupun verbal. Hal itu yang semua pendengar inginkan, supply and demand. Musik dijadikan bisnis, mengurangi ruangan berekspresi hingga eksperimen.

Music is about you. Kalian memilih musik yang cocok dengan kalian, dari mood hingga role model. Seperti pepatah terbaru “kita bisa nilai dari playlistnya”. Batas-batas hingga komersialisasi ini menyebabkan ruang ekspresi satu persatu tertutupi. Buruknya, industri musik tercemar. Kepercayaan, loyalitas dan ruang ekspresi akan berkurang.

Stay up to date with our content.

Share this article

POPULAR STORIES

COMMENTS

Bersua Ria Banner

MORE ON KULTUR EKSTENSIF

Digital Shitpost account meets underground artistry, see the full collection here.

EXPLORE THE CULTURE,
ENGAGED WITH THE SCENE

Kultur Ekstensif is an independent curatorial media that explores in-depth on culture, lifestyle and everything in between. Our editorial content is not influenced by any commissions.

Subscribe to our newsletter

EXPLORE THE CULTURE,
ENGAGED WITH THE SCENE

Kultur Ekstensif is an independent curatorial media that explores in-depth on culture, lifestyle and everything in between. Our editorial content is not influenced by any commissions.

Search
Close this search box.

Stay up to date with our content.

Mixtape This Week