Six Songs to Know: Taufiq Rahman’s Evergreen Selections

Read the story of music writer/label owner Taufiq Rahman, through his favorite music.
6 Six Songs to Know Taufiq Rahman Elevation Records
Image by Taufiq Rahman

Dalam dunia jurnalisme musik Indonesia, tidak banyak yang benar-benar melakukan kritik terhadap karya musik seperti apa yang dilakukan oleh Taufiq Rahman, pemimpin redaksi The Jakarta Post yang namanya mungkin juga akan selalu dikenang di skena musik Indonesia atas usahanya menjadi salah satu pendiri situs musik independen penting Jakartabeat di akhir 2000-an, yang sekarang hanya tinggal menjadi cerita legenda.

Ketika berpendapat kalau Indonesia kekurangan penulis musik yang kreatif, Taufiq mengekpresikan keresahan tersebut tidak hanya dalam bentuk kritik lisan yang dimuat dalam sebuah transcript wawancara, namun juga melalui karya-karya tulisnya secara tidak langsung Taufiq mengisyaratkan sejauh mana kita seharusnya bisa mengeksplor tulisan musik.

Sejauh ini Taufiq Rahman sudah menerbitkan buku mengenai musik berjudul Lokasi Tidak Ditemukan (2012)—yang merupakan kumpulan tulisan yang pernah diterbitkan di halaman Jakartabeat—serta Pop Kosong Berbunyi Nyaring (2017). Ada juga beberapa karya kolaboratif yang Taufiq memiliki andil besar di dalamnya seperti New Dawn Fades: Panduan Mendengarkan Musik Awal Millenium (2018) dan This Album Could Be Your Life: 50 Album Musik Terbaik Indonesia 1955-2015 (2020), yang semuanya diterbitkan oleh publishing house milik Taufiq sendiri, Elevation Books.

Tulisan-tulisan Taufiq mengintegrasikan aspek sosial politik dan musik, sebagaimana kebanyakan penulis di luar sana, yang sayangnya tidak terlalu banyak kita jumpai di Indonesia. Terkadang tulisan-tulisan Taufiq juga membahas konteks-konteks yang sangat personal dan unik, yang datang dari pengalaman pribadi. Ada kesan snobbery dan narsistik yang mungkin turut ditampilkan, namun pada akhirnya, hey musik adalah tentang pengalaman subyektif setiap pendengar terhadap karya yang dikonsumsi bukan?

Dalam buku-buku musiknya, sering kali Taufiq mengambil ide-ide yang sebenarnya sudah pernah dilakukan namun tidak terlalu dieksplor. Selayaknya musisi-musisi yang ia dengarkan, gaya menulis Taufiq juga sangat referensial. Tentunya kita bisa melihat influence dari penulis musik seperti Rob Sheffield atau Simon Reynolds di komposisi-komposisinya, dan hal ini tidak mengurangi keabsahan Taufiq sebagai penulis penting di ranah permusikan Indonesia.

Sebagaimana lagu-lagu favorit Taufiq yang dibahas dalam wawancara yang akan anda baca di bawah ini, karya-karyanya bukan melulu tentang orisinalitas, tapi bagaimana sebuah komposisi diramu dengan begitu baik dan penuh perhatian sehingga menghasilkan karya yang mendorong hati pembacanya, atau dalam kasus kebanyakan tulisan musik Taufiq Rahman: mendorong nalar pembacanya.

Taufiq juga meginisiasi label independen Elevation Records yang merilis karya-karya left of the dial dari nama-nama seperti Semakbelukar, Flukeminimix, Bandempo, serta proyek-proyek eksperimental Marcel Thee di antara sekian banyak, yang kurang lebih juga merepresentasikan selera musik pemiliknya yang sangat left-field ini. Namun artikel ini tidak membicarakan Elevation Records maupun buku-buku yang ditulis Taufiq.

Pada episode Six Songs to Know kali ini, kepada Jody Muhammad, editor musik di Kultur Ekstensif, Taufiq berbagi kisah tentang 6 lagu yang mendefinisikan selera musik dan membentuk cerita panjang perjalanan Taufiq dalam mencari musik.

Read his selections for Six Songs to Know Taufiq Rahman below:


Taufiq Rahman: Saya sudah pernah beberapa kali bikin playlist lalu ditanya oleh teman-teman penulis tentang pilihan-pilihan yang didengarkan. Cuma ketika saya lihat ke belakang, banyak yang sudah tidak bisa saya dengarkan lagi. Maka di sini saya ingin membuat playlist yang benar-benar evergreen, yang akan hidup terus dan akan tetap saya dengarkan hingga 10 tahun ke depan atau untuk waktu yang sangat lama.

Ketika disodorkan contoh daftar milik teman-teman yang lain, saya lihat banyak yang mengambil lagu-lagu yang datang dari masa kecil atau remaja mereka. Saya pun juga besar mendengarkan grunge, dan alternatif. Tapi kebanyakan musik-musik itu sudah mulai hilang relevansinya untuk saya. Jadi, ketika mendapat tawaran ini saya langsung memilih 6 lagu yang saya pikir: Lagu-lagu yang sudah saya dengarkan sejak lama sekali namun hingga saat ini masih terus saya putar. Jadi sepertinya yang ini akan cukup inklusif dan evergreen. Mungkin daftarnya akan sedikit off-beat dan terlalu di luar sana.

Karena semakin tua juga banyak lagu-lagu dari masa muda yang sekarang menjadi susah untuk saya dengarkan karena sudah tidak konek. Dan terus terang banyak yang datang dari tempat-tempat yang agak jauh.

1. Baligh Hamdi: “Noussa”

Biasanya setiap digger memiliki negara favoritnya masing-masing. Ada yang menyukai zamrock (Zambia rock), ada yang menyukai Nigeria, lalu Turki. Biasanya ini adalah negara-negara yang sering sekali disebut oleh para digger, atau ada juga tropicalia dari Brazil.

Negara yang memiliki tempat istimewa buat saya adalah Mesir. Mungkin Jody pernah tahu saya juga pernah membuat sebuah playlist yang di situ ada seorang gitaris dari Mesir, Omar Khorshid. Di situ saya memasukkan trekRaqset Al Fada (Dance of Space).”

Saya banyak mendengarkan komposer-komposer dari Mesir seperti Farid al-Atrash dan Baligh Hamdi, kebetulan dari lama sekali. Kebetulan tahun lalu Sublime Frequencies membuat sebuah kompilasi musik-musik orkestranya Baligh Hamdi. 

Sebagian besar saya sudah tahu materinya, tapi ketika dirilis ulang dan kebetulan remasteringnya bagus sekali saya pesan vinylnya. Vinyl pesanan saya baru datang setelah 4 bulan.

Ketika saya dengarkan lagi musik tersebut, saya merasakan—mungkin terdengar agak cliche—tapi saya sempat agak menangis, karena 2 alasan. Yang pertama karena lama di perjalanan, vinyl-nya bengkok. Saya beli 2 copy yang satu untuk saya yang satu lagi untuk Ucok (Morgue Vanguard) dan waktu sampai keduanya bengkok.

Yang kedua ada komposisi di rekaman tersebut yang berjudul “Noussa.” Lagu ini benar-benar mewakili musik modern Mesir. Komposisinya sangat pendek, hanya sekitar kurang dari 2 menit tapi ia benar-benar mencerminkan bagaimana Baligh Hamdi sebagai tidak hanya komposer Mesir tapi dunia, dapat menggabungkan musik oriental (Mesir) dengan elemen musik modern. Jadi dia memainkan idiom-idiom musik semi-tradisional Mesir dengan instrumen-instrumen modern. Ada saxophone, ada gitar—yang dimainkan oleh Omar Korshid, gitaris favorit saya—lalu ada akordion. Penggabungan ini menghasilkan musik yang orchestral, dan hasilnya… Saya suka menggunakan kata ‘cinematic.’ Sinematik, indah, dan luas sekali.

Jody: Bagaimana Bung Taufiq bisa menemukan dunia musik timur tengah ini? Apa yang menjadi entry pointnya hingga akhirnya menjadi personal sekali?

Saya mungkin tidak bisa mengategorikan diri saya sebagai digger. Saya hanya pendengar musik yang mendengarkan musik agak lebih serius.

Nah ketika banyak mendengarkan musik akhirnya akan membuat kita menemukan lebih banyak musik lagi dari luar negeri. Tapi kalau terus dicari pada akhirnya menjadi luar negeri, yang bukan barat. Makanya para digger tadi banyak yang menemukan musik dari Nigeria, Afrika Selatan, tropicalia dan lainnya.

Bapak saya memiliki background NU. Saat saya kecil, bapak saya sering mendengarkan musik-musik Mesir seperti Umm Khultm di rumah, sehingga musik seperti ini menjadi familiar di telinga saya. Dari situ saya lalu menemukan seniman-seniman besar Mesir lainnya.

Jadi ya karena familiarity tersebut lalu dibantu oleh keinginan untuk terus mencari musik dari tempat yang beda dan agak jauh.

Jadi proses discovery-nya melalui plat?

Mungkin keberadaan internet jadi sangat membantu proses menemukan musik ya. Saya nggak yakin akan menemukan musik seperti ini kalau nggak ada internet.

Di awal 2010-an, internet dan plat seolah-olah menemukan jalan yang membuat mereka bersinggungan. Misalnya label-label dengan musik langka seperti Sublime Frequencies tadi mereka memiliki akun bandcamp. Hal seperti ini membuat proses mencari plat-plat yang susah itu jadi mudah berkat internet.

2. Shigeru Umebayashi: “Yumeji’s Theme”

Sekali lagi, salah satu musik yang sudah lama sekali saya dengarkan dan hingga saat ini belum hilang adalah sebuah komposisi dari film In The Mood For Love (2000).

Ada sebuah komposisi di film itu yang durasinya juga tidak terlalu panjang, sekitar 1,5 menit, judulnya “Yumeji’s Theme.” Itu yang menulis komposisinya seorang komposer bernama Shigeru Umebayashi.

Komposisi Yumeji’s Theme ini sangat pendek, namun motifnya diulang terus sepanjang film. Ia menjadi background di banyak scene ikonik pada film ini. Yang paling saya ingat itu ada salah satu adegan di mana tokoh yang diperankan Tony Leung bertemu dengan karakter Maggie Cheung di tangga sebuah tempat makan. Si Maggie Cheungnya hendak pulang, membawa rantang seperti itu dan pada adegan itu “Yumeji’s Theme” ini dimainkan.

Komposisi visual adegan ini sendiri tanpa musik mungkin sudah bagus sekali: slow motion, kamera angle yang close-up, lalu ada tangga yang memberi kesan claustrophobic. Ditambah musik latar tersebut, jadi terasa pas sekali.

Pertama filmnya sendiri memang luar biasa bagus. Kalau tidak salah ini dinobatkan sebagai film terbaik abad ini, nomor satu, versi majalah The Guardian.

Instrumen yang bermain di sini hanya solo cello, dengan motif yang sangat melankolis. 1,5 menit tadi sebenarnya terlalu pendek, tapi kemudian diulang-ulang sepanjang film. Sampai saya menemukan sebuah video di Youtube yang itu ia mengulang lagu 1.5 menit ini menjadi 1.5 jam. Kalau anda butuh background musik yang keren bisa diputar itu.

Ada banyak sekali versi untuk rilisan vinyl soundtrack In The Mood For Love ini. Kemarin saya baru dapat yang versi Amerika, dari Mondo. Double LP 45RPM. Kualitas suaranya bagus sekali, akan saya dengarkan sampai seterusnya.

Seberapa penting peranan film sebagai bagian dari proses discovery musik Bung Taufiq? Pilihan yang ini diambil dari film In The Mood For Love, dan saya juga tahu Bung Taufiq pernah menulis esai tentang musiknya 2001: A Space Odyssey juga.

Sinema itu kan merupakan sebuah artform yang menggabungkan berbagai elemen: visual, koreografi, kostum. Buat saya salah satu elemen yang paling penting justru musiknya. Saya pikir salah satu elemen yang paling bisa membuat sebuah film menjadi bagus adalah musiknya, di samping apabila sinematografinya sendiri sudah bagus ya.

Film terakhir yang saya tonton, yang mana musiknya dapat menjadikan filmnya menjadi 120% lebih baik, adalah Dune. Dia menggunakan elemen tribal, tapi nggak cliche seperti film Lion King. Dia menciptakan sound-sound baru yang spesifik diciptakan untuk menggambarkan kondisi planet berpasir tersebut. Musiknya sangat menyatu dengan visualnya, filmnya menjadi luar biasa.

Sutradara yang baik tahu kalau musik dapat meningkatkan kualitasanya—enchance the mood dari filmnya. Mereka akan mencari musik terbaik untuk mencapai itu dan ketika berhasil filmnya akan menjadi 2x lebih bagus.

Sama seperti apa yang dilakukan Kubrick di A Space Odyssey. Dia tahu, untuk kebetuhan film luar angkasa seperti itu, tidak bisa diakomodir hanya dengan musik elektronik. Dia mengambil musik klasik dari abad 19 untuk membantu menciptakan kemegahan luar angkasa itu.

3. Gombloh: “Sekaring Jagad”

Ini bukan berarti saya ingin pandering ke audience di Surabaya. Saya memilih musik dari Gombloh ini bukan karena saya merilis musik mereka, tapi ini adalah hasil temuan personal buat saya, hasil temuan mencari musik Indonesia yang paripurna.

Saya tidak berpretensi seolah-olah saya sudah mendengarkan semua musik yang pernah dibuat oleh musisi Indonesia. Cuma setidaknya saya sudah mendengarkan cukup banyak, dan “Sekaring Jagat” ini adalah komposisi yang sama bagusnya dengan karya-karya yang pernah ditulis oleh Guruh dengan teman-temannya di Guruh Gypsy.

Ada element Beatles, Yes, King Crimson, dan itu semua dibuat di Surabaya pada era 80-an. Mungkin kredit terbesar untuk lagu ini ada pada Pak Wisnu Padma—kolaborator di band Gombloh yang memiliki andil sangat besar di band tersebut, ia memainkan mellotron, gitar, keyboard. Luar biasa.

Kalau didengarkan, ada bait piano di awal yang saya rasa itu evergreen sekali. 

Tipe bait piano yang mungkin telah dicari-cari John Lennon atau Paul McCartney dalam karir mereka. Saya tidak tahu pasti proses kreatif mereka bagaimana, tapi saya membayangkan Pak Wisnu datang ke Gombloh dengan riff piano ini lalu Gombloh menulis liriknya, menambahkan solo gitar yang keren dan ada juga part yang agak mirip harpsicord, semua dimainkan bersamaan dengan riff piano tadi. Dan ini semua terjadi di Surabaya tahun 80-an, terdokumentasikan dalam album mereka yang tergolong tidak laku. Pengalaman yang magical buat saya, ketika mendengarkan untuk pertama kalinya.

Jadi bagi Bung Taufiq, Gombloh dan lagu ini adalah pengalaman mendengarkan musik Indonesia yang paling paripurna. Adakah musisi lain yang levelnya mendekati itu?

Mungkin agak hiperbola ya ketika tadi saya bilang levelnya hampir sama dengan Guruh Gypsy. Mungkin bukan soal kualitas musik ya, tapi dalam hal bagaimana dia mengkesplorasi elemen musik Indonesia dan menggabungkannya dengan elemen musik barat—dalam kasus ini, progresif rock, yang Gombloh dapatkan dari Yes, King Crimson, atau Emerson, Lake & Palmer.

Untuk karya musik, yang bisa kita nilai itu kan hasil akhirnya, dan hasil akhir yang direkam di album itu dalam hal kualitas komposisi, kualitas melodi yang dihasilkan, lalu kualitas rekamannya, itu saya bisa bilang nyaris paripurna.

Misalnya kita bicara rekaman milik Leo Kristi. Mungkin kualitasnya sama baiknya. Tapi kan Leo Kristi lebih terbatas instrumennya: biasanya hanya piano, gitar, dan drum. Memang tidak diciptakan untuk menampilkan kemegahan. Atau Kelompok Kampungan dari Jogja, yang kemegahannya lebih berat di sisi musik tradisionalnya, lewat elemen gamelan dan instrumen modern yang mensimulasikan gamelan. Namun penggabungan yang dilakukan Gombloh itu lebih sublime. Ia berhasil menggabungkan musik barat dan timur dengan derajat yang pas. Proporsional.

Saya tidak tahu apakan komparasinya tepat, tapi mungkin sama dengan apa yang dilakukan Baligh Hamdi tadi. Kedua seniman ini berbicara dengan bahasa global untuk sesuatu yang tradisional, akhirnya bisa diterima di seluruh dunia.

Makanya saya optimis ketika saya memutuskan untuk menjual vinyl Gombloh ke pasar luar negeri. Saya optimis di luar sana ada yang memiliki sensibilitas untuk mendengarkan musik ini.

6 Six Songs to Know Taufiq Rahman Elevation Records Illustration
Illustration by Djoko Ikhsan

4. SORE: “Vrijeman”

Lagi-lagi saya harus menggunakan kata ‘cinematic,’ untuk mendefisinikan lagu SORE dari album Ports of Lima ini.

Dan ini adalah lagu paling grand di album SORE tersebut!

Yak betul!

Mungkin Jody juga udah tahu kalau anak-anak SORE ini kan para film enthusiast juga. Album pertama mereka cover art-nya berlatar di gedung pusat film negara—kalau tidak salah, bapak dari salah satu personilnya bekerja di sana. Jadi ya film punya pengaruh besar terhadap musik SORE. Sleeve Ports of Lima sendiri juga merupakan skenario film.

Sebenarnya saya bisa pilih semua lagu di Ports of Lima untuk list ini, karena semuanya bagus. 13 lagu di sini tidak ada yang agak jelek, juga tidak ada yang lebih bagus dari yang lain. Tapi karena harus memilih, yang paling standout, dan yang paling ‘keren’ (untuk menyederhanakan kata ‘sinematik’ tadi) buat saya adalah lagu “Vrijeman”—atau ‘preman’/‘free man’ ini—yang justru, komposisinya dibuat dengan instrumentasi yang tidak terlalu banyak sebenarnya.

Kalau tidak salah di sini tidak ada orkestra, dan Mondo hanya menggunakan tambahan instrumen yaitu mellotron—pakai mellotron pun di tahun 2000-an rasanya sudah sangat istimewa! That’s amazing.

Kalau Jody dengerin, di 30 detik pertama ada semacam opening scene. Ada shimmering sound yang nge-build lalu pecah. Lalu ada solo gitarnya Ade Paloh (kalau tidak salah).

Komposisinya sangat sinematik, progresi akornya luar biasa, vokalnya luar biasa bagus. Again, sebuah karya musik yang ditulis dengan membanyangkan sebuah scene film dengan vast landscape. Seolah-olah mereka membayangkan film Akira Kurosawa, atau mereka berlagak seperti Ennio Morricone ketika membuat komposisi untuk film-film spaghetti western. 

Ketika di buku This Album Could Be Your Life album Ports of Lima dinobatkan sebagai Album Indonesia Terbaik No. 2, lalu ada yang tidak setuju kemudian protes… Saya pribadi, I stand by that decision. Karena dari contoh satu lagu ini saja, sudah bisa menjadi argumen yang kuat bahwa this is one of the best albums of all time di scene musik Indonesia.

Again, walaupun ada yang tidak setuju, tapi sekali lagi itu adalah opini saya dan keputusan kami (tim kurator buku This Album Could Be Your Life /red) dan rasanya masih agak banyak orang yang sependapat dengan saya.

Saya pribadi tidak jatuh di kelompok yang tidak setuju. Cuma ketika membaca buku itu, saya kaget dengan keputusan kalian menempatkan SORE di nomor 2. Rasanya itu the boldest statement from the entire book. Saya rasa mayoritas orang lebih mengantisipasi Efek Rumah Kaca untuk menduduki tahta tertinggi dari ranah indie dalam list tersebut. Itupun mungkin hanya di Top 10 saja tidak sampai Top 5 begitu, let alone nomor 2.

Hahaha, yes. And again I still stand by that opinion.

Kalau kenapa bukan ERK, sebenernya mungkin karena ERK sendiri kan lebih cenderung tradisional (secara format). Mereka bermain dengan instrumentasi yang cukup minimalis: drum, bas, dan gitar. Sedangkan SORE bermain dengan instrumentasi yang lebih ramai. Kalau diibaratkan film, SORE tergolong big budget.

Apalagi dengan constraint waktu yang berakhir di tahun 2015, saya pikir album teranyar yang akan masuk daftar tersebut adalah Sinestesia yang rilis di tahun tersebut. Tapi ternyata justru Semakbelukar.

Sebenarnya niatnya dibuat hingga 2017. Tapi akhirnya kami memilih 2015 agar terlihat cantik saja range waktunya, dari 1955-2015. Toh album Semakbelukar itu sendiri keluarnya di tahun 2013, bukan 2015.

By the way, terus terang pertanyaan saya tadi tentang musisi yang dapat memberikan sajian musik paripurna selain Gombloh, itu adalah usaha saya memancing Bung Taufiq untuk membicarakan SORE.

Oh! Hahaha. Dan oh iya, sebenarnya selain “Vrijeman” masih ada lagu yang lebih grand secara variasi instrumennya, orkestrasinya, hingga ada yang menghadirkan piano solo. Padahal komposisi utama lagu ini juga cenderung tidak terlalu kompleks, tapi mereka bisa buat dengan begitu hebat hingga menjadi kesatuan yang kuat dan megah.

5. Shin Joong Hyun: “The Man Who Must Leave”

Lagu ini saya temukan dari sebuah album kompilasi yang direissue oleh Light In The Attic, sebuah label indie dari Seattle yang memang spesialisasinya adalah me-reissue proyek-proyek lampau. Saya sudah menjadi penggemar Light In The Attic sejak lama, dan sekarang mereka menjadi salah satu distributor rilisan-rilisan Elevation Records.

Light In The Attic mengumpulkan musik-musik dari Shin Joong Hyun yang dianggap sebagai Jimi Hendrixnya Korea. Beberapa komposisinya juga mirip dengan The Velvet Underground, termasuk lagu ini. Tapi bonusnya adalah, untuk rekaman mono, sound drumnya luar biasa. Sekelas John Bonham. Dentumannya luar biasa.

Saya punya soft spot untuk suara drum. I’m a huge fan of drum sounds. Jadi mostly, di dalam musik, yang paling pertama saya dengarkan adalah drumnya.

Rekamannya mono, sangat raw, dan sangat garage rock ala VU. Instrumennya hanya gitar solo, bass dan drum.

Mungkin kalau kita mendengarkan Jimi Hendrix, atau The Velvet Underground, ada kesan biasa aja karena ini dari barat—ya mereka tetap istimewa. Tapi ketika ini dimainkan oleh orang Korea di tahun ’57, wah ini gimana bisa nyambung sampai Korea. Itu kabel bawah lautnya dihubungkan lewat mana, atau airnya mengalir dari mana. Tidak habis pikir.

Jadi ada semacam ketakjuban, atau amazement akan penemuan barang-barang aneh yang datang dari tempat-tempat yang tidak terduga, yang sebelumnya tidak kita kenal sebagai tempat yang bisa menciptakan musik aneh seperti ini.

Coba deh dengerin lagu ini dan rasakan electric feel dan kegelapan hidup di bawah diktator militer di Korea Selatan pada tahun segitu. Pemberontakan terhadap berbagai tekanan sosial.

Jadi, dari berbagai musisi yang datang dari tempat atau negara-negara berkembang seperti ini, lagu ini, saya pikir ini yang paling bisa merepresentasikan kegelapan diktator militer negara dunia ketiga.

Ada drummer lain, atau lagu lain kah yang drum soundnya stick di Bung Taufiq? Sebagai honorable mentions aja…

Sebenarnya untuk list ini saya ingin memasukkan “Another Day,” lagunya Dream Theater. Ini lagu yang abadi untuk saya, walaupun ini kan agak hair metal, solo gitarnya cliche, agak Van Halen. Tapi komposisinya bagus. Saya dengarkan lagu ini dari sejak kuliah, hingga saat ini masih saya dengarkan.

Mike Portnoy adalah salah satu drummer terbaik di musik rock. Drum sound di album Images and Words ini bagus sekali, ketukan drum yang multi-parts, time signature yang macem-macem dan dia seseorang yang virtuosoic.

Kemudian rekaman-rekaman drum yang istimewa juga menurut saya tentunya Rush, tidak ada yang bisa mengalahkan Neil Peart. John Bonham (Led Zeppelin). Lalu Nine Inch Nails di album The Downward Spiral, saya katakan justru drum adalah instrumen utama di rekaman tersebut. Luar biasa gelap, dan crushing sound drumnya.

Jadi ya saya selalu suka rekaman-rekaman yang drumnya ada di depan, leading the way, lalu drum tersebut justru mendefinisikan musiknya.

Diskusi kedua yang ingin saya bahas, tadi ada konteks di mana Shin Joong Hyun digadang sebagai Jimi Hendrixnya Korea. Bagaimana Bung Taufiq menanggapi fenomena penyematan seniman lokal menjadi versi negara dunia ketiga dari seniman yang sudah ada di barat? Dan kenapa rasanya generasi yang lebih tua, para boomers, rasanya senang sekali ketika seorang musisi semakin mirip dengan musisi di luar sana. Sedangkan generasi kami para zoomers ini meyakini kalau menjadi diri sendiri dan novelty itu adalah yang terpenting.

Jadi ada two-fold argument untuk diskusi ini. Pertama, orang Korea mungkin sudah tahu Shin Joong Hyun tanpa label Jimi Hendrix Korea tersebut. Cuma, pada akhirnya kan industri musik dunia beroperasi dengan barat menjadi tastemaker-nya, menjadi sentralnya. Sehingga apa-apa yang datang dari negara dunia ketiga, harus diukur dengan standar mereka. Saya juga kan kenal dengan Shin Joong Hyun karena Light In The Attic. Jadi pada akhirnya barat (dalam kasus ini label tersebut) berhasil memediasi taste saya, dan tentunya dengan usaha-usaha mereka mendefinisikan musik Shin Joong Hyun tadi dengan bahasa industri musik global.

I have to admit, kalau kita tidak bisa lepas dari itu. Tidak semua orang barat memahami politik ekonomi sosial Korea, dan kita tidak bisa mengharapkan mereka untuk belajar sendiri tentang musik Korea. Akhirnya ya industri tersebut yang memediasi, pada akhirnya untuk menjual ya memang harus di-pigeonhole.

Dan yang kedua, perlu saya katakan dengan hati yang sangat berat: dalam musik pop modern, tidak ada yang baru. Nothing is original, kecuali lo adalah Miles Davis atau John Coltrane.

Even Nine Inch Nails juga tidak se-original itu, sudah ada pendahulunya. Originator itu tidak banyak dalam musik pop modern, sayangnya. Maka dari itu tugas kritikus musik itu, seperti sejarahwan, perlu mencari komparator, mencari pola-pola dari era sebelumnya dan membanding-bandingkannya dengan yang ada sekarang, untuk menjelaskan musik baru tersebut.

Tentunya pasti ada simplifikasi, ada reduksi, ada distorsi. Tapi selama kita hidup di mana arus budaya itu mengalir dari barat ke timur, sebagaimana kapitalisme modern bekerja, hal-hal tersebut memang tidak bisa dihindari. Ya memang ini adalah sebuah ketidakadilan atau ketimpangan sosial, but that’s the fact.

6. Kekal: “Born Anew”

Again ini karena perkara drum soundnya. Ini adalah musik paling baru yang saya dengarkan, tapi saya langsung jatuh cinta ketika mendengarnya.

Terus terang saya sebelumnya tidak tahu ada band yang bernama Kekal, sampai suatu saat, sekitar sebulan yang lalu, salah seorang personnel dari Kekal, namanya Jeff Arwadi, mengirimkan materi dari album terbaru mereka ke saya.

Jeff sendiri sekarang tinggal di Kanada, dan ternyata Kekal ini sudah berada di skena musik Indonesia sudah sangat lama. Mereka bahkan sudah punya 12 album sejauh ini. Album teranyarnya yang dikirim ke saya ini sudah dirilis digital.

Seperti biasa, ketika ada musik baru, selalu saya dengarkan dengan skeptisisme. Tapi begitu saya putar pertama kali, dan baru hanya sekali, saya langsung menemukan bahwa ini adalah album yang bagus sekali. Sayang kalau saya tidak berpartisipasi untuk melakukan sesuatu terhadap kehadiran album yang sangat bagus ini.

Salah satu trek yang paling bagus, dan juga dirilis sebagai single utama album ini, adalah “Born Anew,” yang juga sudah ada videonya di Youtube.

Jadi Kekal ini adalah band metal, terutama di album ini. Saya sudah mendengarkan beberapa album mereka dan menurut saya ini adalah album yang paling bisa meramu banyak elemen dari avant-garde, dance, noise, dan metal, dalam proporsi yang sangat pas. Karena sebenarnya kan tidak terlalu banyak musisi yang dapat mengganbungkan terlalu banyak genre (atau setidaknya dance dan metal) ke dalam suatu komposisi dengan proporsi yang pas.

Lagu “Born Anew” ini adalah manifestasi untuk menggabungkan dance music, club, house, ke dalam musik metal, dengan hasil yang sangat bagus dan proporsional. 

Setengah bagian pertama itu metal. Ada Jeff yang teriak-teriak seperti vokalis Deafheaven, dengan musik metal yang agak tradisional. Lalu di tengah ada semacam break dancebeat dengan synth di belakangnya, sebelum ditutup dengan part yang metal lagi.

Mungkin ini bisa dianggap sebagai promosi, tapi saya atau Elevation Records akan merilis albumnya dalam format fisik di bulan Juli nanti. Karena kalau menemukan musik bagus di luar sana, keinginan pertama yang tumbuh di kami (Elevation) adalah untuk menjadi bagian dari musik yang bagus itu. Kita senang sekali bisa menjadi bagian dari album bagus ini dengan melepasnya dalam bentuk fisik.

Ya intinya sayang saja kalau ada musik bagus namun tidak mendapat perhatian yang layak, sehingga ada dorongan untuk saya turut andil dalam menyebarkannya dan menjadi bagian dari itu walaupun kecil sekali.

Kami senang sekali menjadi bagian dari sejarah album-album penting dengan merilis atau membagikan ulang / me-reissue musik mereka. Seperti Rotor mungkin mereka sudah punya historinya sendiri dalam sejarah metal Indonesia. Lalu Homicide yang musiknya life-changing. Atau sebelumnya Bandempo dan dulu sekali The Osaka Journals milik Sajama Cut, album-album yang timeless.

Dengan Gombloh misalnya, kami merasa ada urgensi untuk memperkenalkan ulang sisi Gombloh yang tidak terlalu dipedulikan sebelumnya. Semua orang tau Gombloh dari lagu-lagu popnya, tapi tidak banyak yang mengerti Gombloh di era progresif rocknya misalnya. Atau musik seperti Semakbelukar, jenis musik melayu yang tidak pernah ada sebelumnya dan langsung dianggap klasik berdasarkan penilaian publik.

Kalau Semakbelukar waktu itu kualitas apa yang Bung Taufiq lihat dari mereka yang menghadirkan urgensi untuk Bung Taufiq merilis musik mereka?

Pertama dengar musik mereka itu saya langsung tahu ini sesuatu yang istimewa. Ini sesuatu yang baru, yang beda, tapi I couldn’t really put my finger on it, saya tidak tahu pasti bagian mana yang membuatnya istimewa.

Setelah di kemudian hari dipikir ulang, ternyata puisinya, pantun-pantunnya, lirik-liriknya David Hersya luar biasa. Namun setelah itu, tkami sadari juga kalau ternyata David Hersya itu vokalis yang sangat bagus. Saya teringat di film School of Rock ketika karakternya Jack Black, Mr. S, menemukan keindahan suara salah satu muridnya Tomika, “Tomika, you’ve got pipes!.” Itu juga saya katakan ke David Hersya, “David, you’ve got pipes man!”

Saya harus sebutkan David Hersya adalah one of the best singers yang pernah saya dengarkan. Again, I have to use these superlatives, tapi agak susah untuk menemukan ekspresi lain untuk menjelaskan kehebatan dia. Untuk orang yang berlatar belakang hardcore punk, ini beda banget.

Pada akhirnya proyek tersebut juga tentang kemampuan David dan Ricky Zulman dalam menulis komposisi yang bagus sekali. Mereka bisa membuat komposisi yang no-nonsense dengan instrumen yang sederhana: hanya akordion dan gendang, minimalis tapi concise. Sound quality recordingnya juga sangat bagus, walaupun kata mereka sebenarnya tidak punya budget ketika melakukan rekaman itu.

Oke kembali ke pilihan lagu Kekal tadi… Saya tahu Bung Taufiq memiliki cakrawala permusikan yang sangat luas, dan memang karena format konten kami yang hanya membatasi pilihan hingga 6 lagu, saya yakin Bung Taufiq pasti melakukan konsiderasi penuh dalam memilih daftar seperti ini. Terlebih ketika di awal Bung Taufiq mengatakan ini adalah daftar yang dirasa akan menjadi evergreen. Yang jadi pertanyaan saya adalah, lagu Kekal yang anda pilih ini umurnya bahkan tidak ada setahun. Keyakinan apa yang membuat Bung Taufiq begitu yakin kalau lagu ini akan menjadi evergreen? Menjadi Kekal?

Tadi kan saya sempat mention ingin memasukkan “Another Day” milik Dream Theater. Saya sempat membahas tentang Mike Portnoy, Neil Peart, John Bonham. Dan saya di sepanjang album ini, suara drumnya sangat istimewa. Nilai terbesar yang saya berikan untuk album ini adalah dari drum soundnya. Kualitas rekaman drumnya bagus sekali, mungkin karena Jeff merekam album ini di Kanada dan saya tidak tahu pasti prosesnya bagaimana.

Dan kalau saya mundur ke back catalog Kekal yang sudah ada 12 album tadi, dan juga mendengarkan berbagai macam musik yang lahir di Indonesia, saya berani katakan album ini agak berbeda. Eksekusinya berhasil sublimely molding two entirely different genres secara proporsional. Saya yakin sekali ini adalah album yang akan saya dengarkan selalu seperti Semakbelukar, The Osaka Journal, dan Benua Yang Sunyi. Mungkin tidak akan dianggap secara umum sebagai all time classic, tapi saya yakin ini akan stand the test of time.

Silahkan didengarkan ketika nanti rilis. Boleh setuju boleh tidak setuju.

Dan terus terang saya melihat 2022 itu tahun yang sangat spesial untuk musik. Betapa banyak rilisan istimewa yang keluar dalam kurun waktu hanya 4 bulan, seperti Black Country, New Road, Big Thief yang terbaru dan sebagainya. Mungkin tahun ini akan menjadi tahun seperti ’67, ’91, ’77.

Ya, bagus sekali memang musik mereka. Selain Black Country, New Road ada juga seangkatan mereka black midi bagus sekali musiknya. Saya dengarkan kedua album mereka, Cavalcade dan yang satunya (Schlagenhaim) kebetulan punya vinyl-nya karena anak saya, sekarang masih SMA, kerja di record store juga.

Biasanya tahun bagus untuk musik itu terjadi ketika ada krisis besar, ada perang, mungkin sekarang di tengah pandemi.


Mungkin ada closing remarks?

Ya itu tadi saya berbagi playlist lagu-lagu favorit versi saya saja. Saya juga tidak mau impose kalau that’s the best thing ever. Mungkin ini lebih ke berbagi cerita tentang musik yang saya dengarkan dan berbagi referensi untuk teman-teman yang ingin mencari musik.

Again, “Another Day” by Dream Theater, great music. Saya juga habis me-revisit katalognya Slayer, Reign In Blood is a masterpiece, and so is Cavalcade (black midi).

Tidak peduli dari negara mana, tahun berapa, yang bikin musik tua atau muda, saya pikir good music is good music. Tidak harus menggunakan bahasa yang kita mengerti, because music trancends languages and boundaries, musik itu universal.

Kalau dulu kan waktu masih agak muda sering menegasikan selera musik orang lain, cuma sekarang semakin tua saya sudah mikir ya sudahlah setiap orang punya selera berdasarkan experiencenya masing-masing.

Dan setelah 20 tahun menulis ya this is pretty much my story, through music.

Written by

Share this article

Stay up to date with our content.

Written by

Share this article

Stay up to date with our content.

COMMENTS

POPULAR STORIES

MORE ON KULTUR EKSTENSIF

A new merchandise by Vase Skateboarding Media.

EXPLORE THE CULTURE, ENGAGED TO THE SCENE

Kultur Ekstensif is an independent curatorial media that explores in-depth on culture, lifestyle and everything in between. Our editorial content is not influenced by any commissions.