Search
Close this search box.
Search
Close this search box.
Bersua Ria Banner
Bersua Ria Banner

Tanya Ditaputri and Her Obsession With Drums

Di episode Mixtape for You kali ini, kami berbicang dengan Tanya Ditaputri (FLEUR!, Rad Rat)...
6 Songs to Know Tanya Ditaputri
Image: Press

Di episode Six Songs to Know kali ini, kami berbicang dengan Tanya Ditaputri (FLEUR!, Rad Rat) tentang beberapa lagu favoritnya yang datang dari era MTV hingga hari ini, obsesi tersembunyi terhadap drum, serta kecintaan pada Suede dan Blur yang lucunya tidak termasuk ke dalam daftar putar yang ia bagikan. Simak obrolan kami berikut ini.

Apa sih arti sebuah playlist untuk Tanya?

Kumpulan lagu-lagu yang berkesinambungan, yang bisa didengerin untuk mood tertentu lalu dikasih suatu judul.

Seperti sebuah kompilasi versi kita. Kalau di satu album kan kadang ada lagu yang kita suka, dan ada yang kurang suka atau gimana, cuma ini kita memiliki kesempatan untuk membuat sebuah kompilasi lagu-lagu yang semuanya kita suka.

Apa arti di balik playlist/mixtape “Help!” yang Tanya buat ini?

Jujur aja aku tuh sebenernya nggak punya playlist kan di Spotify. Jadi itu kemarin baru aja buat Spotify dan playlist tersebut setelah diminta [oleh Kultur]. Mungkin itu cuma sesuatu yang asbun (asal bunyi) aja sih yang tiba-tiba tercetus di kepala, kayak: “Help!, kudu bikin playlist nih,” [tertawa].

Highlights

Pada bagian ini Tanya membedah 6 lagu dari playlist di atas yang menjadi highlights baginya:

1. The Lemon Twigs: “Night Song”

Lagu ini sih ceritanya nemu gara-gara aku lagi ngulik mereka. Kalau bisa dibilang mereka kan cukup belang ya lagu-lagunya. Mungkin kesamaannya ajaib-ajaib gitu. Cuma yang bikin aku nengok gitu pas lagi denger lagu ini itu dia ada norak-noraknya, tapi kesan noraknya itu pas gitu. Ada unsur-unsur suara yang menurutku nggak keren sebenernya, tapi ntah kenapa gitu mereka bisa bikin jadi komposisi lagu yang oke banget menurut aku gitu. Jadi agak aneh mereka nih, tapi nagih banget bikin aku pengen denger lagi kenorakannya. Aku dapet kesan kalau mereka kayak pengen ngelucu dan aku bisa nangkep kayak “oh mau ngelawak nih orang”, gitu. Cuma bagus banget ini kemasannya.

2. Ariel Pink: “Dayzed Inn Daydreams”

Ini juga nemunya gara-gara waktu itu The Lemon Twigs lagi mengadakan quiz tebak lagu gitu di Youtube, salah satu lagu yang diputar adalah lagu ini. Waktu denger intronya aku kayak “wih lagu apa nih?” Akhirnya langsung tak cari terus dapet judulnya di situ juga. Aku dengerin lagi terus udah jatuh cinta deh sama lagu ini. Syairnya bagus, aransemennya bagus, dan live-nya juga bagus. Udah kepatil aja tuh sama itu lagu.

3. Super Furry Animals: “Juxtapozed With U”

Kalau lagu ini total gara-gara lirik sih. Aku suka banget sama syairnya karena aku interested soal perbedaan, toleransi dan mereka mengemas hal yang berat ke dalam sajian yang sangat nge-pop/ringan, dan maksudnya baik banget. Padahal liriknya kayak ngajarin orang banget kan “You’ve got to tolerate/All those people that you hate,” tapi dengerinnya jadi kayak nggak sakit hati gitu loh diajarin, nerimanya itu jadi kayak “oh asik nih bisa bikin syair kayak gini terus dijadiin lagu.” Karena itu hal yang pengen aku lakukan tapi belum bisa sampai sekarang.

Tanya sendiri sebelumnya pernah punya attempt dalam membuat lagu dengan syair yang juga berniat ngajarin?

Jujur sampai sekarang belum merasa berada di posisi yang bisa bikin syair ngajarin seperti itu. Cuma mungkin yang paling mendekati bikin syair nyentil, yang mencoba merespon isu-isu tertentu tapi nyentil doang, nggak dengan gamblang. Pengen sih, kayak Super Furry Animals gini, tapi nggak bisa aja.

Kalo di FLEUR! sendiri yang menulis lirik biasanya siapa?

Lebih banyak si Yuyi dan Tika. Sebelumnya kan ada Rika, personil keempat kita yang udah nggak di FLEUR!, dulu dia yang paling banyak nulis. Kalau aku sendiri nggak ada nulis syair sama sekali di FLEUR!. Lebih ke nyumbang nada, akor, tapi kalau untuk syair, jujur karena FLEUR! banyak membewa tema 60’s aku pribadi jauh dari gaya tersebut ketimbang anak-anak yang lain.

Kalau mereka kebanyakan terinspirasi siapa dalam penulisan lirik?

Pastinya Dara Puspita, terus Titiek Puspa. Yang jadul-jadul gitu gaya penulisannya, yang mungkin kalau sekarang kalau digunakan jadi janggal gitu.

4. The Chemical Brothers: “Let Forever Be”

Sebenarnya yang awalnya bikin naksir sama lagu ini tuh video klipnya, waktu masih jaman MTV. Si mas-mas director-nya, Michel Gondry — juga nongol main drum di video itu pakai tutupan muka gitu — dia kalau bikin klip emang suka lucu-lucu gitu. Jadi awalnya ya karena video klip-nya, terus karena drumnya yang aku suka banget, kayak menangkat mood gitu. Sound-nya juga pokoknya suka banget pokoknya. Akhirnya itu lagu yang ngasih kesan everlasting gitu di aku. Bagiku lagu ini masih ada di top list aku. Di saat banyak lagu lain di era itu yang udah melalu, lagu ini masih nempel di aku dan masih akan selalu aku putar.

Speaking of everlasting, menurut Tanya lagu FLEUR! mana yang bakal jadi everlasting untuk orang-orang?

Kalau dari yang udah dirilis, mungkin “Lagu Lama” ya, yang paling singable dan danceable.

Artinya di antara lagu-lagu yang upcoming ada yang bakal lebih everlasting lagi?

Bisa dibilang begitu sih menurut aku, lihat nanti.

Kalau dari FLEUR! sendiri aspek apa sih yang dipikirkan dalam menulis lagu? Liriknya kah? Mencari hook yang bagus kah, atau bagaimana?

Kita kalau bikin lagu lebih mikirin sound-nya. Kayak misal lagu anak-anak lalu dibawakan ulang kadang bisa sesuai dengan ciri khas musisi yang bawain kan.

Kalau notasi nada sih kita nggak terlalu mikir, karena anggapannya ini adalah bahan mentah yang akan diolah. Nah unsur-unsur mengolahnya ini yang kita banyak pikirkan supaya tetap bertanggung jawab atas sound yang kita bawa sejak pertama keluar. Karena awalnya sendiri kita memang tribute to 60’s kan, lebih tepatnya tribute to Dara Puspita. Tapi kita di FLEUR! nggak pengen sound yang sejadul itu, kita masih pengen ada sound modern-nya dikit sesuai dengan era di mana kita hidup sekarang. Jadinya pertanggung jawaban dari segi sound dan aransemen di kita penting banget sih, kayak terkadang aku pengen nge-aransemen lagu jadi kayak gini tapi karena takut terlalu keluar dari branding kita, aku jadi harus ngerem. Tantangannya ya cara mengatur ke arah sana itu, karena buat aku ini proses yang nggak sesuai nature-ku — mungkin dari masing-masing personil juga begitu, kayak kalau si Yuyi kadang pengen ngelakuin apa tapi harus ditahan. Kalau drum-nya si Tika sih emang 60’s banget jadi dia udah terbiasa, nah karena kita personil lainnya belum terbiasa yang jadi fokus pengerjaan adalah itu.

Yang pasti bagaimana musik kita nanti keluar dan terdengar di kuping orang adalah hal yang sangat kami pertimbangkan. Hal nomor satu seusai bikin aransemen, kita selalu kasih test drive ke orang yang kita percaya atau kadang manggil orang ke studio saat proses rekaman untuk jadi judge-nya, dan mempertimbangkan input mereka sebelum akhirnya kita lepas ke publik.

Kalau membuat musik dengan style 60’s/Dara Puspita di luar nature Tanya, lalu style seperti apa/siapa yang sesuai dengan gaya main gitar kamu, adakah figur yang influensial? Bagaimana cara ngeimplementasikannya ke dalam musik FLEUR!?

Kadang sih suka colongan ya, aku sendiri suka banget sama isian-isian gitarnya Bernard Butler (Suede).

Menurut aku gitar elektrik adalah instrumen yang amat berbeda dari gitar akustik, secara mindset. Maksudnya ketika kamu mau ngisi, kamu mau ngisi apa dengan tool ini, mau memberi efek kah, mau memberi isian-isian yang lebih tajem dari akustik kah, sehingga kamu secara mindset harus memahami cara pandang tersebut.

Gaya isian-isian elektrik yang terngiang di aku itu punyanya Bernard Butler (Suede), lalu Graham Coxon (Blur). Kalau Coxon isian-isiannya suka usil dan kadang emang sengaja disumbang-sumbangin dan kesan sumbangnya ini yang sering kali malah menjadi permen dalam lagu. Kalau Bernard Butler dia sebenernya punya semacam satu pola yang sering dia ulang-ulang ke dalam beberapa lagu tapi penempatannya sering oke banget. Kadang pattern-pattern si Butler sering tak keluarin kalau aku lagi main live — tapi kalau di rekaman nggak sih, kayak ya kadang keluar di kepala aja tapi aku nggak bisa mainin ini pola-pola ini ke dalam rekaman, jadi waktu live sering kayak tak keluarin kali ya, gitu.

Lagu Suede favorit?

“The Chemistry Between Us”.

5. The Flaming Lips: “Race for the Prize”

Lagu ini aku nengok dari intronya. Waktu baru mulai drum di intro, room-nya digedein kan, begitu masuk vokal, room-nya dikecilin. Kesan yang diberikan intronya kayak megah banget kayak sebuah grand welcome. Aku suka banget feeling intro yang seperti itu, yang bisa bikin orang kecantol lagu sejak dari intro, karena itu lagi-lagi salah satu hal yang belum bisa aku lakuin.

Banyak bunyi-bunyian yang aku nggak terpikirkan dia keluarin juga di situ, dan memang kan kalau The Flaming Lips ini banyak bermain dengan bunyi aneh ya, kadang bunyi yang manis-manis terus agak diproses suaranya jadi agak gimana dan lucu-lucu lah. Aku jadi bisa lebih berimajinasi ketika mendegarkan The Flaming Lips.

6. Alice In Chains: “Nothin’ Song”

Nothin’ Song aku suka vokalnya terutama waktu di reff dia ambil interval loncatan octave yang cukup jauh, itu lucu dan berani menurut aku. Sebenarnya di beberapa lagu dia [Layne Staley, vokalis] lakuin itu sih, tapi aku suka banget di lagu ini dan di part itu secara khusus karena kayak ngasih suasana bermain-main dengan musiknya, kayak dia ngasih kesan enjoy setelah dia kasih mood yang tense di verse, termasuk lewat drum-nya dengan beat yang tertata serta syair yang diulang-ulang, lalu tiba-tiba di reff dia ngelepas tense tersebut dan jadi playful, suka banget.

Tanya sendiri main drum nggak sih?

Pernah belajar, tapi nggak pernah sampai main sebagai penampil. Cuma buat sendiri doang.

Soalnya beberapa picks tadi justru yang emang dikenal karena groove-nya ketimbang, say gitarnya. Kayak “Race for the Prize” sama “Let Forever Be”, lalu barusan ketika bicarain Nothin’ Song-nya Alice In Chains concern kamu selain vokal adalah drum-nya?

Iya ya.. Iya juga baru nyadar.

Memang drum punya daya tarik tersendiri aja sih buat aku, mungkin karena dasarnya aku suka menari ya jadi bunyi dentuman-dentuman ngasih dorongan untuk gerak. Suka sih, suka banget sama drum.

Illustration by Sonny Ardiansyah

Kalau diibaratkan sebuah objek/perwujudan, kira-kira hal apa yang merepresentasikan playlist ini?

Playlist itu kayak baju/busana, ganti playlist itu kayak ganti busana… Ketika pakai baju tertentu, attitude-ku akan menyesuaikan. Sama kayak playlist. Pas lagi denger sebuah playlist terus ganti ke yang lain tuh pembawaan langsung beda, cara berpikir juga beda… Bisa sengaruh itu.

Click this link to listen to Help!, a playlist by Tanya Ditaputri.

Follow Kultur Ekstensif on:
Instagram | Spotify

Written by

Share this article

Stay up to date with our content.

Written by

Share this article

Stay up to date with our content.

Bersua Ria Banner

COMMENTS

POPULAR STORIES

MORE ON KULTUR EKSTENSIF

Digital Shitpost account meets underground artistry, see the full collection here.

EXPLORE THE CULTURE,
ENGAGED WITH THE SCENE

Kultur Ekstensif is an independent curatorial media that explores in-depth on culture, lifestyle and everything in between. Our editorial content is not influenced by any commissions.

Subscribe to our newsletter

EXPLORE THE CULTURE,
ENGAGED WITH THE SCENE

Kultur Ekstensif is an independent curatorial media that explores in-depth on culture, lifestyle and everything in between. Our editorial content is not influenced by any commissions.

Search
Close this search box.

Stay up to date with our content.

Mixtape This Week