Bersua Ria Banner
Bersua Ria Banner

Ardy Siji “Pioneer From The East”

We talk to Ardy Siji, an urban icon, and a pioneer from the East Indonesian creative scene.
Volkgaze Ardy Siji
Image by: Ardy Siji

Pada episode Volkgaze kali ini, kami berbincang dengan Ardy Siji seorang Urban Icon dari Makassar yang membantu menempatkan kota ini di peta kreatif nasional dengan Chambers kekuatan kreatifnya sejak awal 2000-an.

Ardy berbagi dengan kami tentang sejarah panjang Chambers dan budaya distro awal millenium, bagaimana dia memunculkan ide Rock in Celebes, dan apa yang belakangan dia lakukan di bidang pertanian.

Simak percakapan kami berikut ini:


Halo, belakangan lagi sibuk apa mas Ardy?

Lagi sibuk mengelola perkebunan ramah lingkungan (organik). Ya kita harapannya sih bikin semacam permaculture gitu lah. Hal ini bisa dibilang cukup baru buat saya. Saya bergelut baru sekitar 3 tahunan.

Kebetulan saya ada tempat di Bandung, kebetulan di gunung, rumah kebetulan di tempat itu dan kemudian ada area lebih yang tidak lain peruntukannya cocok untuk perkebunan. Akhirnya saya coba untuk bekerjasama dengan teman-teman yang kebetulan ahli di perkebunan.

Dari situ berkembang, kami melihat kebahagian dalam mengelola kebun sehingga kami rasa ini adalah movement yang harus dibagi kepada siapa pun, karena kami melihat potensi untuk melibatkan banyak orang termasuk ke anak muda.

Ada potensi untuk bikin semacam integrated farming. Saya sendiri backgroundnya dari kreatif, sedangkan temen-temen yang aktif di pertenian kebetulan masih muda-muda dan kita bisa bikin program bareng. Walaupun dua bidang ini sangat berbeda, tapi secara misi sebenarnya bisa diintegrasikan.

Dari situ kami juga tergerak untuk bikin semacam akademi yang bisa menjadi wadah untuk teman-teman berdiskusi, berkegiatan bareng. Akhirnya berangkat dari komunitas kami bikin sekolah beneran untuk anak-anak (TK-SD), agar mereka bisa belajar esensi hal-hal seperti ini sejak dini.

Selain bergerak di pendidikan kami juga merambat ke bidang pengolahan (kitchen lab). Bikin produk-produk olahan hasil kebun, jadi tidak hanya menikmati produk hasil panen tapi juga mengolahnya menjadi makanan, minuman dan produk lainnya. 

Kurang lebih begitu itu sih, tapi ya kegiatan yang sebelum itu juga masih pada jalan. Seperti Chambers masih berjalan, event khususnya Rock In Celebes festival dan berbagai asosiasi event yang saya tergabung masih berjalan, dunia agency masih jalan dan belakangan saya juga cukup padat dengan MBloc group dll.

Awareness terhadap dunia pertanian dan edukasi dini datangnya dari mana?

Dari jaringan juga kebetulan karena kebetulan saya cukup dekat dengan komunitas kreatif lintas minat, tidak hanya seni. Kebetulan ada kawan lama dari skena punk Makassar dulu yang sekarang aktif di pertanian. Lewat channel itu dan kebetulan saya punya lahan ya sudah langsung digarap. Awalnya tidak ada objektif yang terlalu bagaimana.

Ternyata pergerakan ini membuat kami tersadar kalau ada beberapa hal yang juga perlu diketahui anak muda. Hal-hal yang bukan hanya sekedar pertanyaan seperti ‘perkebunan itu apa atau bagaimana,’ tapi juga hal-hal yang sifatnya lebih esensial seperti ketahanan pangan, pangan mandiri, kebun ramah lingkungan, makanan sehat dan sebagainya. Melalui pendekatan komunitas itu tadi.

Selain itu ya saya selalu tertarik mempelajari hal-hal baru dan selalu terbuka terhadap bidang-bidang lain yang bisa diajak kolaborasi, makanya konsepnya tadi bisa dibuat terintegrasi. Makanya tempat ini juga akhirnya bisa menjadi wadah untuk berkegiatan apapun, bertanam, berseni, lalu kegiatan edukatif seperti bikin workshop, diskusi dan sebagainya. Ternyata walaupun lintas bidang, dunianya juga masih bisa nyambung kok.

Di situ akhirnya ya saya menemukan banyak hal. Saya belajar kalau ternyata dunia anak muda itu terbatas seperti apa yang saya tahu sebelumnya [entertainment]. Masih banyak di luar sana gerakan-gerakan yang diinisiasi anak muda termasuk dalam bidang pertanian dan pendidikan tadi.

Volkgaze Ardy Siji 2

Boleh diceritain background sejarah Chambers dong?

Chambers tahun ini berumur 19 tahun. Saya memulai Chambers di tahun 2003 ketika saya berada di semester 3 perkuliahan. Sebelum itu, sejak SMA saya aktif di komunitas musik, kebetulan saya memiliki passion di musik yang pada saat itu mungkin dikategorikan sebagai underground/sidestream, terutama metal, punk rock dan hardcore. Kebetulan karena ada saudara yang juga memiliki ketertarikan di dunia itu.

Waktu itu teman-teman di komunitas ini banyak yang mulai aktif memproduksi karya, nah kemudian saya melihat adanya kebutuhan lain yaitu menyediakan panggung untuk mereka. Nah saya coba menggarap itu dengan beberapa teman.

Berangkat dari situ kemudian kami juga merambah ke aspek lain yang juga masih bagian pergerakan musik independen, yaitu aspek fashion/style-nya. Karena teman-teman ini juga memiliki ciri khas sendiri dalam berdandan. Kami mencoba mengakomodir semua itu secara mandiri, dari mendesain, memproduksi. Awalnya untuk dipakai sendiri lalu ya kami mulai jual ke teman-teman sendiri. Semangat independensi terutama dari musik dan fashion ini yang memotori kami untuk terus mengekspansi Chambers ditambah dengan keaktifan saya berkorespondensi dengan teman-teman di luar Makassar.

Dari situ akhirnya saya mencoba untuk membuat dan memasukkan merchandise yang tidak hanya apparel namun juga majalah, musik, yang awalnya untuk diri saya sendiri, namun akhirnya terpikir kalau tidak disebar, circlenya akan sangat eksklusif.

Saya terinspirasi oleh kota Bandung, Jakarta, Jogja dan Surabaya dengan pergerakan distro yang kulturnya sangat dekat dengan musik. Dan karena berangkat dari semangat dan passion yang sama, membuat koneksi dengan mereka terasa mudah sehingga saya mencoba menawarkan untuk barter menjual produk mereka di Makassar dan memperkenalkan produk kami ke mereka.

Dan kala itu gelombang clothing Bandung tidak hanya tentang musik, tapi juga banyak komunitas lain yang terkoneksi dengan kultur distro ini. Saya akhirnya berkenalan dengan brand seperti Unkl347, lalu Ouval Research, sebagai representatif yang bisa kerjasama dengan mereka di Makassar. 

Waktu itu posisi belum ada toko, sehingga saya jualannya bergerilya dengan menawar-nawarkan sambil bawa tas, lalu nggak lama kemudian menjadi lapak dengan mobil, mendatangi tempat-tempat nongkrong, lalu sempat bikin di rumah. Akhirnya karena banyak yang nanyain, baru lah kita bikin toko. Awalnya hanya berukuran 3×3 meter yang mana jadi satu dengan toko pulsa–yang mana kami merasa cukup beruntung juga udah bisa showcase produk, terserah mau jadi satu sama toko apapun.

Toko ini lalu pelan-pelan memiliki base customer. Kami menawarkan desain yang limited, biasanya satu artikel cuma selusin saja. Dengan mendapat kepercayaan dari customer akhirnya kami bisa ekspansi toko tersebut. Namun, sambil berjalan kami juga mikir kalau seharusnya ini nggak sekedar jualan produk aja tapi kita harus aktif di komunitas dan memiliki media promosi.

Media promosi yang paling efektif pada saat itu untuk menyebarkan usaha minor ini adalah panggung. Akhirnya kami membuat pertunjukan bernama Chambers Show di tahun 2004 yang lalu menjadi regular show. Dari situ baru kami berkembang di banyak lini, ada clothing store, ada divisi entertainment, record label dan juga bikin festival. Hingga tahun 2010 Chambers Show sempat dilaksanakan sebanyak 30 pertunjukan. Dari sini Chambers seolah-seolah menjadi sebuah pergerakan yang memiliki positioning di Makassar.

Di era itu festival musik adalah hal yang sangat ngetren ya, terutama yang bersifat perlombaan. Namun karena kami di Timur kebanyakan orang mengonsumsi media mainstream, sehingga Chambers yang menawarkan hal-hal alternatif pada saat itu bisa memunculkan sebuah wave baru di Makassar. Ada semangat pemberontakan yang terbentuk dan kami akhirnya menciptakan pasar sendiri.

Pada saat itu mungkin orang-orang Makassar ya masih banyak yang bertanya-tanya ini sebenarnya apa sih, mereka ini mengenakan produk apa sih. Tapi karena jauh sebelum itu kami berangkat dengan passion, mau orang suka tidak suka, kami tetap dengan senang hati menjalankannya. Pada saat itu kami belum mempedulikan bisnisnya. Bisnis adalah bonus untuk kami. Semacam keberuntungan karena kami melakukannya dengan konsisten akhirnya kami mendapat ilmu tentang bagaimana cara mengelola bisnisnya, produk, promosi dan orang-orang yang tergabung di sini dengan baik. Namun akhirnya pengetahuan tersebut menjadi tools untuk kami menjalankan ini semua dengan holistik, sudah tidak lagi berlandaskan gaya-gayaan.

Sehingga dari situ terbentuklah positioning Chambers sebagai representasi timur Indonesia yang bergerak di bidang fashion, distro, gigs, event yang akhirnya membuat kami masuk ke dalam peta nasional. Hal ini yang lantas menjadi modal kami untuk dengan mudah mendapat akses berjerjaring secara nasional.

Sepanjang menjalankan Chambers, kami membuat plan 5 tahunan. Kami mencoba proyeksikan diri kami di 5 tahun pertama seperti apa lalu di 5 tahun kedua ada di mana. Seiring berkembang, toko kami terus mengakusisi lahan. Toko kami semakin besar hingga di titik kami bingung mau mengeluarkan embel-embel distro, namun dibilang department store kami juga tidak ke arah sana. Yang jelas kami adalah retail yang menjual produk-produk lokal/independen dengan semangat yang masih sama seperti dulu kala.

Bagaimana dengan Rock In Celebes?

Di tahun ketujuh (2010) muncul sebuah kesadaran untuk mengekspansi gerakan kami. Kami melihat kurangnya festival yang diinisiasi oleh anak lokal sendiri. Kami melihat event-event besar yang diselenggarakan di Makassar kebanyakan digarap oleh orang-orang luar Makassar. Dengan modal pengalaman nge-manage Chambers Show tadi akhirnya kami mencoba untuk membuat festival dengan skala yang lebih besar yang lalu diberi nama Rock In Celebes tersebut.

Ketika kami membuat Rock In Celebes kami tidak meniatkan hal tersebut hanya sebagai proyek iseng atau proyek sekali usai, tapi kami memang berpikiran festival ini harus menjadi sebuah kekuatan baru di kancah lokal Makassar, dan lagi-lagi untuk memperkuat positioning kami di peta nasional. Kami pun berusaha konsisten dengan membuatnya secara annual.

Dari Chambers dan Rock In Celebes, saya jadi semakin banyak mendapat kesempatan untuk bertemu teman-teman pelaku dari berbagai daerah dari barat hingga timur, hingga akhirnya bisa membuat proyek macam-macam seperti sekarang.

Volkgaze Ardy Siji 3

Di titik apa mas Ardy menyadari kalau Chambers secara komersil bisa sustain?

Saya kurang tau persisnya, tapi seingat saya selama Chambers berjalan, setiap tahunnya kami menemukan resource yang membuat kami bisa melakukan sesuatu yang lebih di tahun berikutnya. Seperti misalnya Chambers Show ya awalnya dari keuntungan toko. Kami pun kaget ‘kok ternyata toko kita ada untungnya ya?’

Di awal tadi kan kita memang tidak memiliki beban untuk memiliki tabungan, sehingga ya excess duit selalu dialokasikan ke hal-hal terobosan berikutnya, seperti bikin event tadi. Dari bikin event ini menjadi semacam bibit, lalu kami mendapatkan kepercayaan dari konsumen dan penonton sehingga muncul lah sponsor yang melihat adanya komunitas bernama Chambers—pada saat itu sponsor melihat Chambers sebagai komunitas, bukan sebagai distro.

Begitu kami punya kesempatan untuk bekerjasama dengan pihak lain, terjalin lah kerjasama B2B dengan korporat, brand, dan sebagainya, di situ kami merasa ‘wah ternyata kami keren ya bisa meyakinkan pihak-pihak ini.’ Di situ kami baru sadar kalau kami ternyata menjalankan usaha mandiri ini secara utuh. Dari awalnya mencoba melakukan usaha secara mandiri lalu menjalin komunitas, mendapatkan kepercayaan konsumen, hingga didatangi sponsor, kami tersadar kalau ternyata kami bisa scaling up apa yang kami lakukan ini menjadi sebuah bisnis yang serius. Mungkin ini terjadi setelah 3-4 tahun.

Walaupun kami belum menargetkan apa-apa, tapi kami sudah mendapat keuntungan, dan kami mendapat keyakinan kalau Chambers sudah bisa berkontribusi secara lebih luas dan lebih panjang.

Yang jadi pertanyaannya tadi kan bagaimana kok bisa settle? Di titik ini tadi akhirnya kami sadar pentingnya pengelolaan secara manajemen. Memperhatikan orang, produk, sistem keuangan dan lainnya. Jadi ya tetap passion, tetap mandiri, tapi porsinya harus benar. Tidak hanya sekedar berseni saja, sebagaimana beberapa kawan kita yang sayang sekali akhirnya tidak bisa berlanjut, tapi harus dibarengi dengan kesadaran untuk mengelola itu tadi.

Komunitas seperti apa sih yang tererpresentasikan oleh Chambers pada saat itu?

Kebetulan di akhir 90 awal 2000-an ya trendnya sama seperti di luar Makassar. Saya sendiri berangkatnya dari skena punk rock dan metal, tapi yang alternatif/pop pun juga bersinergi dengan kami. Di Bandung waktu itu ada fenomena Puppen, berbarengan dengan Pure Saturday dan Mocca, di sini pun juga seperti itu.

Di sini pun ada komunitas pop sendiri, komunitas hardcore sendiri. Mereka bermain di genrenya masing-masing. Walau beda komunitas tapi mereka sama-sama sadar kalau mereka/kita ini sama-sama pelaku independen. Kita menciptakan karya sendiri, dan memasarkannya sendiri, pola semangatnya masih sama. Karena Makassar kotanya juga masih mudah dijangkau, sejauh apapun masih dekat kemana-mana dan mudah mengenal siapapun.

Chambers Vol. 01 itu ada 12 band lokal yang bermain dari punk, metal, pop ada semua, dan mereka pada saat itu sudah pada punya karya. Kebetulan tahun segitu sudah menggeliat musisi independen, dan wavenya semakin besar, komunitasnya semakin terasosiasi. Jadilah pergerakan yang menjadi milestone di Makassar.

Ya sama lah dengan perjalanannya di Surabaya di era itu. Di 90-an ada pergerakan metal di Inferno, studionya Samier dan kawan-kawan, lalu berikutnya ada komunitas folk, lalu muncul komunitas indie pop. Pun juga di Bandung, Jakarta dan Jogja seperti itu.

Alhamdulillah ya kami masih bisa jalan sampai sekarang. Kami merasa beruntung, terbantu oleh value kota (Makassar), value sosial (kulturnya) dan orang-orangnya (komunitas lokal) yang membuat kami masih bisa terus sustain.

Menarik sekali term ‘value kota’ ini? Boleh dielaborasi maksudnya? Dan sebenarnya salah satu pertanyaan terbesar yang ingin kami lontarkan adalah bagaimana Chambers yang datang dari Makassar bisa hingga bertahan hingga di titik ini? Rasanya susah sekali untuk pelaku kreatif di luar Jakarta, Bandung dan Bali bisa sustain…

Pertumbuhan kota Makassar di tahun 2000-an itu sangat kami rasakan ketika Makassar diset menjadi kota besar setelah Surabaya menyerahkan piala Indonesia Timur ke Makassar. Waktu itu Surabaya dianggap sebagai kota industri, lalu Bali sebagai area pariwisata, lalu orang-orang mulai membicarakan Makassar sebagai salah satu kota berpotensi di luar Jawa untuk orang-orang berinvestasi.

Tapi jujur waktu itu kami tidak melihat itu. Kami tidak tau kalau Makassar akan menjadi kota sebesar ini. Kami melakukan ini dan mengasosiasikan apa yang kami lakukan dengan Makassar, karena kami dari Makassar, kami tinggal di Makassar. Mungkin kalau kami di Samarinda, atau Manado ya perlakuannya akan tetap sama.

Kami tidak peduli, tapi seiring berjalannya waktu kami pun menyadari ternyata kota ini terus tumbuh dengan potensi-potensi yang mana di antara semua potensi itu apa yang kami lakukan ini juga ada di dalamnya. Sehingga ketika wavenya naik kami pun ikut naik dan sebaliknya.

Kami tidak memungkiri value kota ini punya pengaruh besar terhadap pergerakan kami, walau awalnya kami tidak peduli dengan apa yang dilakukan pemerintah, korporat maupun investor. Dunia kami ya dunia kami aja gitu. Pun sebaliknya kami merasa apa yang kami lakukan akhirnya juga berkontribusi terhadap perkembangan kota ini, walaupun kami tidak bisa mengatakan dampaknya sebesar itu juga. Tapi setidaknya bisa jadi Makassar dikenal oleh pelaku di kota luar karena Chambers.

Dulu mungkin lebih mudah mengenal kota dari kulinernya, lalu baru munculah attraction. Dengan pergerakan Chambers lalu juga komunitas-komunitas lainnya sehingga muncul berbagai attraction di Makassar, sehingga Makassar tidak hanya dikenal sebagai kota yang sarat akan kuliner saja, tapi juga akan attractionnya.

Saya juga sangat aktif untuk merepresentasikan Chambers, pergerakan, dan kota kami ke luar sana. Karena balik lagi kalau ngomongin value culture, saya sebagai orang Bugis, kami dikenal sebagai pelaut, perantau yang memang dari dulu kerjaannya juga kemana-mana. Ya mungkin ini turun ke saya, hingga saya semangat berjejaring kemana-mana. Saya aktif bolak-balik Bandung-Jakarta lalu Makassar sudah sejak 2003. Karena kami dari Indonesia Timur, ya gimana, mau tidak mau hal seperti ini harus dilakukan. Kalau teman-teman di Jawa bekerja keras, kami di sini harus bekerja 10x lebih keras, dan ini yang membuat kami semakin kuat sebenarnya.

Mungkin kalau saya tidak aktif berjejaring ceritanya akan lain. 

Written by

Share this article

Stay up to date with our content.

Written by

Share this article

Stay up to date with our content.

Bersua Ria Banner

COMMENTS

POPULAR STORIES

MORE ON KULTUR EKSTENSIF

EXPLORE THE CULTURE,
ENGAGED WITH THE SCENE

Kultur Ekstensif is an independent curatorial media that explores in-depth on culture, lifestyle and everything in between. Our editorial content is not influenced by any commissions.

Subscribe to our newsletter

EXPLORE THE CULTURE,
ENGAGED WITH THE SCENE

Kultur Ekstensif is an independent curatorial media that explores in-depth on culture, lifestyle and everything in between. Our editorial content is not influenced by any commissions.

Stay up to date with our content.

Mixtape This Week