Volkgaze: Rahmat Dwi Putranto and His “Diskopantera” Consistency

A selector 80-90s music, man behind Diskopantera.
Image by Diskopantera

Pada episode Volkgaze kali ini, kami berbincang dengan Rahmat Dwi Putranto atau biasa disebut Anto, sosok dibalik meriahnya panggung Diskopantera yang acap kali memutarkan lagu-lagu lawas era 80-90an dan sukses membangun euforia para audience untuk menari di lantai dansa.

Anto berbagi dengan kami tentang perjalanan satu dekade, beberapa achievement dan mimpinya untuk Diskopantera, bagaimana integritas yang beriringan dengan konsisten mempengaruhi sepak terjang seorang Rahmat Dwi Putranto.

Simak percakapan berikut ini:

Halo mas Anto, lagi sibuk apa nih selain manggung?

Ngga ada sih, cuman lagi “ngangon” anak-anak aja.

Sebelum jadi Diskopantera yang sekarang, boleh diceritain sedikit ngga awal suka musik itu gimana?

Dari waktu aku kecil sudah sering dijejelin musik sama orangtua dan om, dari situ sudah terbiasa diperdengarkan berbagai macam aliran musik atau genre yang berbeda-beda dan juga sering diajak ke panggung-panggung musik gitu. Awal ketertarikan sama musik dari situ.

Sampe pada akhirnya bisa punya project Diskopantera, bisa diceritain ga om awalnya gimana?

Kalo Diskopanteranya sendiri itu di tahun 2012 awalnya diajak temen untuk perform di sebuah event yang dia buat, dan kebetulan memang eventnya bertemakan 80an-90an jadi semua pengisi acara atau semua performance di malam itu memutarkan lagu-lagu 80 dan 90an. Itu awal mulanya kenapa Diskopantera lahir lah ibaratnya.

Sebelum jadi Diskopantera, waktu itu lagi sibuk apa om?

Di tahun itu yang paling sering dikerjakan adalah digital, aku freelancer di kantor digital agency pada saat itu.

Mas Anto ini dulu denger-denger waktu kuliah sempet jadi kurator band kampus ya? Boleh diceritain ngga waktu itu gimana euforianya? Band-band apa aja yang sempat diundang?

Waktu dulu kuliah tahun 95-99, setiap tahunnya fakultasku punya acara pentas musik dan aku termasuk salah satu tim yang bisa dibilang kurator/penyaring band-band yang layak tampil di festival musik tersebut. Awalnya cuman band-band kampus doang yang diundang dari semua fakultas di kampus, yang mau manggung yuk kita buka audisi dan berbagai macam aliran mau pop, mau rock, mau punk, kita kurasi semua.

Di era itu festival musik lagi menggeliat, di kampus-kampus bahkan pensi-pensi sekolah khususnya di Jakarta lagi gila banget, hampir semua SMA punya festival musik jagoan lah ibaratnya, begitupun dengan kampus-kampus. Kalo di kampusku kebetulan bukan festival musik yang sebesar itu, bahkan fakultasku bisa manggil guest star itu baru tahun 97, kita sempat undang Gallery dan Reza Artamevia. Memang pada saat itu festival musik lagi gila-gilanya, bisa dibilang itu mungkin cikal bakal sampe akhirnya festival musik bisa semeriah sekarang.

Mas Anto dulu kenapa bisa kepikiran masuk sastra, padahal kan suka banget sama musik?

Alasannya sesederhana karena tidak ada matematikanya mas.. hahaha. Saya sangat menghindari matematika, kebetulan di sastra tidak ada matematika sama sekali

Diskopantera kan udah rilis beberapa single tuh, creative processnya gimana mas?

Beda-beda ya, sebenernya awal tahun 2015 setelah tiga tahun berjalan diencourage sama temen “kayanya lo harus punya single sendiri deh, selain lo muterin lagu-lagu hits”, akhirnya ya waktu itu karena masih blank belum kepikiran ini itu dan menurutku brandingan si Diskopanteranya belum berjalan dengan baik, ngga kayak sekarang yang hampir semua orang itu sangat familiar dengan lagu-lagu era 80an-90an, semantara di tahun itu boro-boro bikin lagu sendiri, euforia orang mau dengerin lagu lama aja belum segitunya, jadi masih fokus banyak-banyakin manggung supaya orang menikmati era itu. Tapi akhirnya kepikiran “Iya juga ya kayanya harus punya karya sendiri” dan sempat terhenti mimpinya sampai tahun 2019 dan rilis diawal 2020, sudah punya target ini itu tapi ternyata pandemi jadi ya yaudah akhirnya ngaret secara timeline. Ya semoga sih bertepatan dengan satu dekade di tahun ini bisa rilis album.

Image by Diskopantera

Referensi/inspirasinya dari mana sih mas atau emang cuman memang mentok di 80-90an aja?

Sebenernya ngga melulu mentok soal 80 dan 90an, pengennya anak sekarang bisa menikmati dan relate tapi untuk orang yang pernah mendengarkan musik di era 80 dan 90an ketika mendengarkan lagunya bisa nostalgia dengan vibes itu, biar ada benang merahnya gitu mas. Makanya genre yang dihasilkan setiap saya rilis single juga beda-beda, ada pop, ada rock tapi tetap dalam lingkup 80 dan 90an.

Boleh diceritain gak cara maintaining mood dan creativity seorang Anto/Diskopantera itu gimana?

Saya sudah terbiasa bawain dengan seneng, secara otomatis udah kebawa happy terus kalo manggung. Paling yang sulit itu disisi kreatifnya mas, saya kan masih ada target dua lagu lagi nih, nah itu mungkin jadi agak mundur karena harus nyesuain jadwal dan lebih milih ada waktu untuk anak-anak/keluarga. Mungkin repot bagi waktunya itu aja. Tapi kalo untuk mood sebisa mungkin sudah otomatis harus dibawa bahagia terus.

Bertepatan satu dekade di tahun ini, apa goals dan achievement terbesar yang udah dicapai sama Diskopantera?

Waduh, kalo goals yang pasti dan yang masih utang adalah album mas karena ini masih jadi goal terbesar Diskopantera, bagaikan bisul yang udah bengkak banget pengen cepet dipecahin dan semoga sepuluh tahun berjalan saya bisa meninggalkan sesuatu untuk musik Indonesia, naruh legacy lah istilahnya. 

Tapi kalo achievement saya bingung juga nih, karena dari awal dengan adanya project ini saya sebenarnya tidak punya goals apa-apa, project ini lahir karena ketidaksengajaan dan diluar rencana cita-cita saya, saya melakukan ini cuman buat seneng-seneng aja, saya suka musik, saya suka memutarkan lagu kesukaan saya, yang dari awalnya nggak banyak orang yang bisa menikmati lagu-lagu yang saya putarkan sampe akhirnya beberapa tahun kemudian tiba-tiba bisa jadi sebuah trend atau demam throwback, sampe banyak orang yang ngulik lagu lama itu aja bagi saya sudah melebihi ekspektasi sih mas. 

Bukan sesuatu yang saya pikirkan seblumnya bahkan sampe anak-anak SMP pun tahu lagu yang saya puterin itu kan diluar ekspektasi, beberapa tahun lalu saya nggak pernah terpikirkan hal itu mas. Di cafe-cafe, di panggung-panggung festival, di club-club tiba-tiba banyak temen-temen band atau DJ yang juga memutarkan lagu-lagu era yang sebelumnya tidak mereka putarkan. Bahkan lagu-lagu Indonesia di club pun sekarang berkumandang, banyak temen-temen yang ikut memperkenalkan lagu lama dan lagu Indonesia layak diputar di lantai dansa. 

Ketika saya memulai Diskopantera, saya tidak pernah berfikiran sampe sejauh ini, sampe saya bisa ada di panggung-paggung festival besar seperti Soundrenaline, We The Fest, Synchronize Fest atau apapun itu, saya ngga pernah bermimpi akan ada di panggung itu mas. 

Kalo dibilang achievement bisa iya bisa tidak karena kalo achievement kan ada goals yang harus dituju dan saya harus bisa capai, kalo ini tuh diluar keinginan tapi tiba-tiba saya bisa dapetin itu, saya rasa ini jauh melebihi achievement menurut saya. Tapi ketika ditengah jalan, ada goals yang ingin saya capai ya itu tadi, Album.

Image by Diskopantera

Apa best gigs/best collaboration dari Diskopantera?

Tanpa mengecilkan panggung lain ya, salah satunya adalah ketika saya pertama kali bisa ada di panggung Soundrenaline tahun 2017, ada satu moment yang membuat saya bergetar/goosebumps waktu melihat crowd ribuan orang seperti lautan manusia, ketika itu tidak henti-hentinya saya mengucap syukur pada Tuhan hingga bisa diberikan kesempatan seperti itu. Itu juga diluar mimpi saya, saya bisa memutar lagu-lagu kesukaan saya di festival musik sebesar itu dengan lautan manusia yang entah berapa ribu orang itu, itu sih salah satu best gigs yang pernah saya rasain. Sebenernya juga banyak gigs lain yang menurut saya gila ini keren banget acaranya tapi salah satu yang berkesan Soundrenaline 2017, pertama kali saya manggung di Soundrenaline. Kalo collaboration, hampir semua yang sempat kolaborasi sama saya sih semuanya berkesan, susah kalo milih salah satu.

Sekarang kan mulai banyak kolektif electronic music yang lagi rame dikalangan anak muda, gimana pandangan Mas Anto tentang electronic music di zaman sekarang? 

Kalo kolektif sih pasti makin gede lah, karena dari zaman dulu kolektif udah cukup banyak banget yah, DJ-DJ pada bikin kolektif. Dari tahun 90an juga udah marak banget, pada jaman itu ada 1945MF, Future 10, Javabass Soundsystem dll. Ya ngga heran kalo semakin kesini makin banyak temen-temen yang pada bikin kolektif, karena kan environmentnya harus saling supportive, kalo bisa sama-sama kenapa harus sendiri? lebih baik sih menurutku. 

Yang paling penting sih harus saling support aja sih intinya, karena kadang yang bikin sedih adalah di habitatnya sendiri atau di lingkungannya sendiri masih ada yang saling jatohin mas. Misalnya kalo lihat fenomena kayak koplo gitu, pasti aja ada yang menganggap degradasi taste of music lah atau apalah, sementara kan harusnya kita harus saling support selama dia tidak merugikan dan ada pasarnya ya kenapa enggak? Musik itu ngga bisa kita kotak-kotakin mas, biarkan terus berkembang dan bereksplorasi, kita sebagai sesama pemain harus saling support apa yang bisa kita bantu, apa yang bisa kita kolaborasikan. Yaa minimal support lah, meskipun tidak bisa membantu apa-apa setidaknya minimal tidak perlu menjatuhkan.

Kalo bisa dideskripsikan diskopantera ini ingin terlihat seperti apa?

Konsisten. Saya pengen nunjukin konsistensi dan integritas itu adalah dua hal yang sangat esensial. Dan saya pengen nunjukin bahwa dua hal itu yang membuat Diskopantera jadi seperti yang kita tahu sekarang, karena cuman dua hal itu yang Diskopantera punya, itu pengen saya tularkan kepada temen-temen yang pengen memulai dan memperkenalkan hal yang mereka suka.

“Gue pengen memperkenalkan hal ini loh, tapi kok ga kemakan yah?” atau “Kok gue ga mencapai hasil yang gue inginkan yah?”. Diskopantera adalah salah satu contoh yang bisa saya tunjukin, karena saya memulai project ini juga ngga langsung mendapat respon yang baik, ada masa dimana beberapa cafe dan club melarang lagu-lagu Indonesia, Diskopantera pernah melawati fase itu dan butuh sekitar 5 tahunan kurang lebih untuk menyajikan lagu-lagu lawas adalah hal yang lumrah diperdengarkan di festival musik atau di club dan dimanapun.

Written by

Share this article

Stay up to date with our content.

Written by

Share this article

Stay up to date with our content.

COMMENTS

POPULAR STORIES

MORE ON KULTUR EKSTENSIF

To put all the creative heads are the bright way to engage the scene.

EXPLORE THE CULTURE, ENGAGED TO THE SCENE

Kultur Ekstensif is an independent curatorial media that explores in-depth on culture, lifestyle and everything in between. Our editorial content is not influenced by any commissions.